Evaluasi dan Supervisi Visi Misi Sekolah
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kegiatan evaluasi merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari
kegiatan pngejaran karena kedua hal ini mempunyai keterkaitan dan hubungan yang
sangat erat. Maherens dan Lehman mengutip sebuah ungkapan
yang berbunyi to teach without testing is unthinkable (mengajar tanpa
melakukan tes tidak masuk akal).[1]
Demikian pula, Pamel mengemukakan bahwa pengukuran adalah langkah awal
pengajaran. Tanpa pengukuran tidak akan diperoleh pengetahuan yang baik tentang
hasil, tidak dapat terjadi perbaikan yang sistematis dalam belajar.[2]
Kutipan diatas makin jelas menunjukkan kepada kita bahwa evaluasi
merupakan suatu komponen yang sangat erat dengan komponen lain-lain dalam
pengajaran. Dapat dikatakan bahwa evaluasi dan pengajaran itu saling membantu.
Evaluasi haruslah membantu pengajaran dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah
di tetapkan.
Kegiatan
supervisi
pendidikan sangat
diperlukan
oleh guru, karena bagi
guru
yang
bekerja
setiap
hari di sekolah tidak
ada pihak lain yang lebih dekat
dan mengetahui
dari
dalam segala kegiatannya, kecuali Kepala Sekolah.
Guru
merupakan salah satu
faktor
penentu
rendahnya mutu hasil
pendidikan.
Dalam rangka pelaksanaan
program supervisi
pendidikan
maka harus mencakup semua
komponen
yang
terkait
dan mempengaruhi
terhadap
keberhasilan program
supervisi pendidikan.
Keberhasilan tersebut
dilihat dari komponen perencanaan, implementasi dan
dampak
dari program supervisipendidikan.
Kepala
Sekolah dalam melaksanakan tugas dan
tanggungjawabnya
sebagai supervisor
Secara efektif,
maka
Kepala Sekolah memiliki kompetensi yaitu
kemanusiaan,
manajerial, dan.
teknis.
Kesemuanya merupakan satu
kesatuan
yang tidak dapat
dipisahkan.
Dewasa ini
pendidikan
untuk
semua (education for
all) akan menjadi dambaan setiap
orang.
Pendidikan seutuhnya
(holisticeducation) akan banyak dibicarakan.
Manusia akan sadar bahwa hidup ini
membutuhkan
belajar,untuk
memperoleh
pengalaman
berarti menemukan kemanusiannya
manusia. Orang
yang
belajar memerlukan bantuan
dalam
proses
pembelajaran.
Pembelajaran
mendambakan
orang
yang mampu mendapat
bantuan (assisting), mendapat
support (supporting)
dandiajak untuk tukar
menukar (informasi).
Menurut UU
No. 20
Tahun
2003
tentang
Sistem
PendidikanNasionalyangmerumuskan
tujuan
pendidikan yang
ingin dicapai yaitu
mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban
bangsa
yang martabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar
menjadi
manusia yang
beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu,
cakap,
kreatif,
mandiri, dan menjadi
warga
Negara yang demokratis serta
tanggung
jawab.
Untuk mencapai
tujuan nasional tersebut
perlu
adanya
peningkatan
setiap
jenis dan
jenjang pendidikan.
Untuk
meningkatkan
kualitas proses belajar mengajar guru mempunyai perananyangsangatpenting karena gurulah yang
berfungsisecaralangsung dalam
proses belajar mengajar.
Kepala
sekolah
menduduki
posisi yang strategis
didalam pencapaian
keberhasilan
suatu sekolah dan berperan
sebagai
pemimpin pendidikan, administrator dan
supervisor.
Kepala
Sekolah sebagai pemimpin karena
mempunyai
tugas
untuk
memimpin staf (guru-guru, pegawai dan
pesuruh)
untuk
membina
kerjasama yang
harmonis
antara anggota staf sehingga dapat membangkitkan
semangat, serta
motivasi
kerja sebagai staf yang dipimpin
serta meningkatkan suasana
yang
kondusif.
Kepala
sekolah sebagai supervisor
pendidikan
mempunyai kewajiban
membimbing dan
membina
guru
atau staf lainnya.
Pembinaan dan bimbingan guru akan
berpengaruh besar terhadap kelangsungan dan
kelancaran proses belajar
mengajar.
Tugas kepala sekolah
sebagai supervisor
tersebut
adalah memberi bimbingan, bantuan dan
pengawasan dan
penilaian
pada masalah-maslah yang berhubungan
dengan
tehnis penyelenggara
dan pengembangan
pendidikan, pengajaran
yang
berupa perbaikan
program pengajaran
dan kegiatan-kegiatan pendidikan
pengajaran
untuk
dapat
menciptakan situasi
belajar mengajar yang lebih
baik.
Melihat hal
tersebut diatas maka penulis mencoba untuk menulis sebuah makalah yang berjudul
“Evaluasi, Supervisi, Visi, Dan Misi Sekolah” yang dimaksudakan disini adalah
evaluasi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
B.
Evaluasi dan Supervisi Visi dan Misi
Sekolah
Jika
diperhatikan kebijakan tentang pendidikan, sebenarnya telah ada upaya-upaya
pemerintah dalam mengatasi masalah pendidikan dasar. Contoh adanya upaya
pemerintah dengan melahirkan berbagai kebijakan dan program-program yang dapat
mengatasi masalah-masalah pendidikan, seperti masalah mutu, pemerataan,
relevansi efektifitas, dan efisiensi pendidikan. Akan tetapi banyak hal yang
menjadi penghambat bagi upaya yang dilakukan tersebut, diantaranya dari
berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh pihak pemerintah. Diantaranya dari
berbagai upaya dan kebijakan yang dilahirkan oleh pihak pemerintah yang
kadang-kadang kurang menyentuh didalam implementasinya. Secara kontekstual.
Kebijakan dan program yang dimunculkan sudah maksimal, namun tidak membumi
dalam praktiknya, sehingga hal ini tidak banyak memberi pengaruh dalam
mengatasi berbagai masalah dalam pendidikan.[3]
Harian “Pikiran
Rakyat” mengemukakan bahwa ditingkat dunia, Indonesia termasuk negara
penghutang (debitor) nomor 6, negara terkorup no 3, peringkat SDM ke-112 dari
127 negara, dengan penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan mencapai 30%,
dan pengangguran terbuka mencapai 12
juta.[4]
Akar masalah tersebut adalah faktor politik dan keamanan yang tidak mendukung,
penegakan hukum yang tidak konsisten, iklim investasi yang kurang kondusif,
serta birokrasi pemerintahan yang berbelit-belit, disamping semerawutnya sistem
pendidikan nasional, sebagai lembaga yang bertugas menyiapkan SDM. Inilah
tantangan bangsa Indonesia dalam memasuki millenium goals, era global,
dan era informasi. Ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak dapat kita pisahkan
dalam kehidupan sehari-hari dana kan berdampak pula terhadap kebijakan dalam
dunia pendidikan Indonesia.
1.
Evaluasi Kebijakan Pendidikan
Seperti telah
dikemukakan dalam pembicaran diatas, evaluasi adalah kegiatan atau proses untuk
mengukur dan selanjutnya menilai sampai dimanakah tujuan yang dirumuskan
dicapai. Apabila tujuan yang telah dirumuskan itu direncanakan untuk dicapai
secara bertahap, maka dengan evaluasi yang berkepanjangan akan dapat dipantau
tahapan manakan yang sudah dapat diselesaikan, tahapan manakah yang berjalan
dengan mulus, dan manapula tahapan yang mengalami kendala dalam pelaksanaanya.
Alhasil dengan evluasi terbuka kemungkinan bagi evaluator untuk mengukur sebab
seberapa jauh atau seberapa besar kemajuan atau perkembangan program yang
dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah dirumuskan.[5]
Eliot W.
Eisener mengatakan A fifth function
of evaluation and the most traditionally employed in the curriculum theory, is
a means for determining wheter education objectives have been attained. (sebuah
fungsi kelima dari evaluasi dan fungsi yang digunakan secara paling tradisional
dalam teori kurikulum adalah sebagai sebuah cara untuk menentukan apakah tujuan
pendidikan telah tercapai.
Masalah yang
sangat serius dalam bidang pendidikan di negara kita adalah rendahnya mutu
pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Berbagai kalangan
masyarakat, termasuk ahli pendidikan, berpendapat bahwa masalah mutu pendidikan
sebuah proses pendidikan sebagai salah satu faktor yang dapat menghambat
penyediaan sumber daya manusia sebagai modal utama pembangunan bangsa dalam
berbagai bidang.[6]
Mutu pendidikan negara kita berada di bawah Vietnam dan kualitas pendidikan
negara Malaysia lebih jauh meninggalkan negara kita, padahal sebelumnya
Malaysia belajar dari bangsa kita, Indonesia.
Mutu
pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, masih rendah.
Sebuah informasi data bahwa indikator mutu pendidikan tidak ditujukan untuk
perubahan yang berarti. Indikator nilai rata-rata Ujian Nasional (UN), misalnya
pada dua dekade terakhir menunjukkan angka konstan antara 4-5 untuk mata
pelajaran MIPA, sedangkan untuk mata pelajaran lainya tidak lebih dari angka 6.
Indikator mutu pendidikan lainya seperti ketrampilan, disiplin, dan akhlak
siswa tidak menunjukkan kecenderungan membaik, bahkan yang terjadi sebaliknya.
Oleh karena itu upaya untuk memperbaiki mutu pendidikan perlu dilakukan melalui
peningkatan efektiitas sekolah, peningkatan kuaitas supervisi para pengawas,
peningkaran peran komite sekolah, kualitas guru sebagai tenaga profesional yang
kompeten, perbaikan kegiatan proses belajar mengajar, pengadaan buku, dana dan
alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, serta peningkatan
kualitas kepemimpinan, kinerja, dan manajemen.[7]
2.
Output Evaluasi
Sekolah
Setidak-tidaknya
ada kemungkinan hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi yaitu:
a.
Hasil evaluasi itu ternyata menggembirakan sehingga dapat
memberikan rasa lega bagi evaluator, sebab tujuan yang telah ditentukan dapat
dicapai sesuai dengan apa yang drencanakan.
b.
Hasil evaluasi itu ternyata tidak menggembirakan atau bahkan
mengkhawatirkan dengan alasan bahwa berdasar hasil evaluasi ternyata dijumpai
adanya penyimpangan-penyimpangan, hambatan atau kendala sehingga mengharuskan
evaluator untuk bersikap waspada. Ia perlu memikirkan dan melakukan engkajian
ulang terhadap rencana yang telah disusun atau mengubah dan memperbaiki cara
pelaksanaanya.[8]
Menurut Suke Selverius,
hasil dapat menunjukkan tepat tidaknya metode mengajar yang diperlukan oleh
guru dalam menyajikan suatu materi tertentu.
Apabila hasil
evaluasi mengecewakan, terdapat kemungkinan bahwa metode pengajaran yang
diterapkan untuk penyajian suatu materi tidak atau belum selesai. Guru
berkewajiban untuk mencari metode lain yang lebih cocok untuk mengajarkan
materi pegejaran tertentu.[9]
Sudah barang tentu perubahan-perubahan itu membawa konsekuensi berupa
perencanaan ulang atau perencanaan baru. Dengan demikian dapat diaktakan bahwa
evaluasi itu memliki fungsi menunjang penyusunan rencana.
3.
Evaluasi Sebagai Tindakan Penyempurnaan
Apabila
berdasarkan evaluasi itu diperkirakan baha tujuan tidak akan dapat dicapai
sesuai dengan rencana, maka evaluator akan berusaha untuk mencuri dan menemukan
faktor-faktor penyebabnya, serta mencari dan menemukan jalan keluar atau
cara-cara penyelesaianya. Bukan tidak mungkin bahwa atas dasar data hasil
evaluasi itu evaluator perlu mengadakan perubahan-perubahan, penyempurnaan-peneyempurnaan
dan perbaikan-perbaikan.baik perbaikan dalam lingkup lingkungan sekolah, tata
kerja dan bahkan mungkin juga perbaikan terhadap tujuan organisasi itu sendiri.
Jadi kegiatan evaluasi pada dasarnya juga dimaksudkan untuk melakukan perbaikan
atau penyempurnaan usaha. Perbaikan usaha tanpa didahului oleh kegiatan
evaluasi adalah tidak mungkin. Sebab untuk melaksanakan perbaikan terlebih
dahulu harus diketahui apa yang harus diperbaiki, dan mengapa hal itu tidak
diperbaiki. Kegiatan evaluasi yang tidak menghasilkan titik tolak untuk
perbaikan adalah hampa dan tidak ada artinya sama sekali.[10]
Secara khusus
fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat ditilik dari tiga segi. Yaitu segi
psikologis, segi didaktik, dan segi administrasi.[11]
Secara psikologis, kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan disekolah dapat
disoroti dari peserta didik dan pendidik. Bagi peserta didik, evaluasi
pendidikan secara psikologis akan memberikan pedoman atau pegangan batin kepada
mereka untuk mengenal kapasitas dan status dirinya masing-masing
ditengah-tengah kelompok atau kelasnya. Dengan dilakukanya evaluasi terhadap
hasil belajar siswa misalnya, maka ara siswa akan mengatahui apakah dirinya
termasuk siswa yang berkemampuan tinggi, berkemampuan rata-rata, ataukah
berkemampuan rendah.[12]
Bagi pendidik,
evaluasi pendidikan akan memberikan kepastian atau ketetapan hati kepada diri
pendidik tersebut, sudah sejauh manakah kiranya usaha yang telah dilakukanya
selama ini telah membawa hasil, sehingga ia secara psikologis memliki pedoman
atau pegangan batin yag pasti guna menentukan langkah-langkah apa saja yang
dipandang perlu untuk dilakukan selanjutnya.[13]
Secara
didaktik, maka kegiatan evaluasi pendidikan akan memberikan dorongan kepada
mereka untuk memperbaiki, meningkatkan, dan memperhatikan potensinya. Evaluasi
hasil belajar itu misalnya, akan menghasilkan nilai-nilai hasil belajar untuk
masing-masing individu siswa. Ada siswa yang nilainya jelek (prestasinya
rendah), karena itulah siswa siswi tersebut terdorong untuk memperbaikinya.[14]
Meskipun
demikian, hasil serupa dapat menimbulkan akibat motivasi belajarnya menurun
atau bahkan hilang sama sekali. Ada siswa yang nilaina tidak jelek, karena itu
siswa-siswi tersebut terdorong untuk memperbaikinya, agar untuk waktu yang akan
datang nilai hasil belajarnya tidak sejelek sekarang.[15]
Meskipun demikian, hasil serupa dapat mempunyai akibat motivasi belajarna
menurun atau bahkan hilang sama sekali.[16]
Secara khusus,
fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat ditilik dari tiga segi yaitu segi
psikologis, segi didaktik, dan segi administrasi.[17]
Secara
psikologis, kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan di sekolah dapat disoroti
yaitu dari peserta didik dan dari segi si pendidik. Selain fungsi-fungsi
evaluasi tersebut diatas, dapat pula fungsi evaluasi dilihat dari segi
kepentingan dengan evaluasi yang dilakukan oleh Chabib Thaha yang berpendapat
bahwa fungsi evaluasi pendidikan bila dilihat dari segi kepentingan
masing-masing pihak dapat disimpulkan sebagaia berikut:
a.
Mengetahui kemajuan peserta didik.
b.
Mengetahui kedudukan masing-masing individu peserta didik.
c.
Mengetahui kelemahan-kelemahan dalam cara belajar mengajar.
d.
Memperbaiki proses belajar mengajar dan menentukan kelulusan
peserta didik.
e.
Mengetahui kemampuan dan hasil belajar.
f.
Memperbaiki cara belajar siswa
g.
Menumbuhkan motivasi dalam belajar.
h.
Mengukur hasil belajar anaknya.
i.
Mengetahui kemajuan dan kemunduran sekolah.
j.
Membuat keputusan kepada peserta didik.
k.
Mengadakan perbaikan kurikulum.[18]
Fungsi evaluasi
pendidikan bagi orang tua peserta didik adalah untuk hal-hal sebagai berikut:
a.
Mengetahui hasil belajar anaknya.
b.
Mengingkatkan pengawasan dan bimbingan serta bantuan kepada anaknya
dalam usaha belajar.
c.
Mengarahkan pemilihan jurusan atau jenis sekolah pendidikan
lanjutan bagi anaknya.[19]
4.
Supervisi Pendidikan Sekolah
a.
Latar Belakang Munculnya Supervisi Pendidikan
Usaha untuk
meningkatkan atau memperbaiki mutu pada setiap jenjang pendidikan dalam suatu
sistem pendidikan nasional merupakan sebuah keniscayaan. Perkembangan ilmu
pengetahuan dalam bidang psikologi, telah memberikan isyarat bagi pengembangan
metodologi pembelajaran yang sebagian besar guru daat mendalaminya. Pengaruh
perubahan sosial dan ekonomi telah membawa perubahan dalam paradigma pembinaan.
Perubahan tersebut juga telah berimplikasi pada sebuah pengertian bahwa
kurikulum harus dikembangkan apabila para generasi muda akan dipersiapkan untuk
menghadapi berbagai persoalan dimasa depan, sekaligus pendidikan bukan obat
mujarab untuk mengobati berbagai persoalan bangsa dan negara.[20]
b.
Konsep Supervisi Pendidikan Modern
Konsep
supervisi pendidikan yang modern menekankan pada pendekatan demokratis.
Usaha-usaha yang ditempuh baik oleh supervisor maupun yang disupervisi terdaat
kesepakatan keduanya. Proses supervisi yang menekankan pada pendekatan otokratis tidak sesuai lagi
dengan hakikat manusia yang pada hakikatnya manusia ingin dihargai. Inti
supervisi adalah bagaimana guru dapat melakukan proses pembelajaran yang
sebaik-baiknya sehingga peserta didik dengan mudah melakukan proses
pembelajaran.[21]
Douglas Membedakan konsep supervisi pendidikan menjadi tiga kelompok:
1)
Supervisi yang Demokratis
Supervisi yang
baik menurut Douglas adalah supervisi yang demokratis, karena kita hidup dalam
masyarakat yang demokratis. Sikap demokratis sangat diperlukan dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Untuk itulah maka proses pendidikan juga harus
bersifat demokratis. Implikasi terhadap supervisi adalah pelaksanaan supervisi
juga harus bersifat demokratis. Guru sebagai individu bebas berfikir untuk
melatih diri untuk berinisiatif, mengembangkan kepercayaan, dan mengembangkan keikutsertaan
dalam pembuatan keputusan, baik yang terkait dengan tujuan maupun kebijakan
pengajaran. Demokrasi dalam dunia pendidikan dilakukan dengan cara memasukkan
unsur-unsur kerjasama antara guru dengan supervisor. Mereka secara bersama-sama
memecahkan masalah bersama. Supervisor yang demokratis juga menekankan pada
pertumbuhan jabatan guru, disukusi dan penentuan tujuan yang bervariasi,
menciptakan metode dan prosedur untuk perbaikan pembelajaran dan penegmbangan
kemampuan guru dalam rangka pemantapan diri.[22]
2)
Supervisi yang Objektif dan Sistematis
Karakteristik
supervisi ini terletak pada penggunaan metode yang objektif dalam melaksanakan
pengukuran proses pebelajaran dan hasil-hasilnya, serta pengelompokan yang
objektif disertai dengan analisis statistik. Terdapat nilai-nilai signifikan
yang digunakan dalam penggunaan metode yang objektif dan sistematis mengarah
pada pengumpulan data dalam rangka menguji hipotesis-hipotesis dan teori-teori
ang baru. Sifat objektif dan sistematis juga berlaku bagi riset dan
percobaan-percobaan yang perlu untuk menentukan efektivitas dan validitas
metode dan prosedur, baik bagi program pembelajaran maupun bagi keperluan
supervisi, terutama sekali bagi supervisi pendidikan.[23]
3)
Supervisi yang Baik adalah Supervisi yang Kreatif
Supervisi yang
demokratis dan ilmiah memiliki nilai-nilai yang penting. Supervisi yang ilmiah
memerlukan metode-metode yang demokratis, sedangkan supervisi yang demokratis
membutuhkan metode-metode yang ilmiah guna mencapai hasil yang telah
ditetapkan. Supervisi yang kreatif membutuhkan suatu situasi dimana para guru
dan peserta didik dapat tumbuh kemampuanya dibawah tenaga profesional. Tujuan
supervisi yang kreatif adalah mengembangkan program kerjasama yang berkenaan
dengan perhatian umum, penguunaan riset ilmiah dan memersiapkan tenaga-tenaga
yang menuntut problem-problem ilmiah, bebas dari pengawasan dan menstimulir
melalui pengawasan dan semangat penemuan. Supervisi pendidikan memiliki program
perbaikan, tidak hanya terbatas ditentukan dan sekaligus ditangani oleh atasan,
tetapi usaha kerjasama dipertahankan dan dipelihara dalam rangka pengembangan
riset ilmiah. Para guru diharapkan dapat secara bebas mengembangkan profesi,
bakat, dan kemampuan kerjasama, dalam usaha pemecahan masalah melalui semangat penemuan.
Para guru dibantu dalam mengembangkan pengetahuan perofesionalnya dan daat
menghadapi perubahan yang ada dan terjadi serta yang akan terjadi dalam
masyarakat.[24]
5.
Visi dan Misi Sekolah
a.
Keterkaitan Visi dan Misi Sekolah Dalam MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)
Manajemen
barbasis sekolah dimaknai sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih
besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas lebih besar kepada sekolah untuk
mengelola sumber daya sekolah, dan mendorong sekolah untuk meningkatkan partisipasi
warga sekolah dan masyarakat untuk mencapai tujuan sekolah dalam rangka
pendidikan nasional. Esensi MBS adalah otonomi sekolah, fleksibilitas, dan
partisipasi untuk sasaran mutu sekolah.[25]
Dari sudut
konsep, sekolah ditempatkan sebagai pelaku utama bukan objek. Mutu sekolah
sebagai produk adanya mutu manajerial, umumnya dilihat dari:
1)
Kualitas konteks lingkungan masyarakat pendukung termasuk sosio ekonomi dan geografisnya.
2)
Kualitas input, terutama minat calon siswa dan hasil perekrutan
siswa baru.
3)
Kualitas proses belajar mengajar secara menyeluruh.
4)
Kualitas lulusan.
5)
Kualitas dampak, suatu nilai tambah kerja sekolah bagi tiap-tiap
lulusan sendiri bagi masyarakat.[26]
Mengacu kepada
dimensi-dimensi tersebut diatas, sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam
pengelolaan lembaganya. Pengambilan keputusan akan dilakukan secara
partisipatif dengan mengikutsertakan peran masyarakat sebesar-besarnya. Melalui
penerapan MBS akan nampak karakteristik lainya dari profil sekolah mandiri,
diantaranya sebagai berikut:
1)
Pengelolan sekolah akan lebih desentralistik
2)
Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal
sekolah
3)
Regulasi pendidikan akan menjadi lebih sederhana
4)
Peranan para pengawas bergeser dari mengntrol menjadi mengawasi
5)
Akan mengalami peningkatan manajemen
6)
Akan menggunakan team work
7)
Informasi menyeluruh
8)
Menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih datar
sehingga akan lebih sederhana dan efisien. Hal tersebut terjabar dalam gambaran
sekolah yang efektif berikut ini.[27]
![]() |
b.
Contoh Visi dan Misi Sekolah
Untuk
mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa itu visi dan misi dalam satu
instansi, maka disini penulis memberikan contoh salah satu visi dan misi sebuah
instansi pendidikan sebagai berikut:
Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah
1.
Visi Sekolah
Visi SMA Negeri 1 Bangli merupakan pandangan tentang keadaan masa depan
yang diharapkan oleh SMA Negeri 1 Bangli, yang dirumuskan sebagai berikut:[28]
”Terwujudnya kultur
sekolah sebagai wahana belajar yang kondusif untuk memberdayakan peserta didik
berkembang menjadi insan yang berakhlak mulia, cerdas, kreatif, inovatif dan
kompetitif dalam dunia global.”
School Vision
“
To Construct School Culture as a Condusive Learning Area to Develop Learners to
Have a Good Moral, Cleverness, Creativity, Innovation and Competition in Global
Word “
Berdasarkan Visi tersebut
di atas SMA Negeri 1 Bangli berhasrat untuk tahun 2015 menghasilkan :
”Insan yang Unggul Bidang Prestasi Bijak dalam Masyarakat”
This vision has
indicators as follows:
1.
Meningkatkan keimanan dan
Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. To
upgrade the faith and belief to the Almighty God
2.
Menanamkan disiplin yang tinggi yang ditunjang oleh
kondisi fisik yag prima To
set up High discpline supported by healthy physical condition.
3.
Menanamkan semangat nasionalisme dan
patriotisme To set up the spirit of nasionalism and
patriotism
4.
Mengarahkan siswa agar
memiliki kepekaan sosial dan kepemimpinan. To direct students in order to have
social awareness and leadership
5.
Mengembangkan wawasan
IPTEK yang mendalam dan luas. To develop science and technology
6.
Menumbuhkan
motivasi dan komitmen yang tinggi untuk mencapai prestasi dan keunggulan dalam setiap ajang kompetisi. To
raise high motivation and commitment to get achievement and superiority in every competition event.
7.
Melaksanakan pembelajaran
dan bimbingan secara efektif, efisien dan berkesinambungan. To
do effective, effisient, and countinuous learning and counseling
8.
Menerapkan managemen partisipatif dengan melibatkan
seluruh warga sekolah. To
apply participative management by involving all compenet in the school
2.
Misi Sekolah
The school’s mission
Untuk mewujudkan visi di atas, maka misi SMA Negeri 1 Bangli adalah :
To establish the above
motion, that the mission of SMAN
1 Bangli are :
1.
Menumbuhkembangkan
penghayatan terhadap ajaran agama, budaya, dan budi pekerti yang menjadi
sumber kearifan dalam bertindak. To grow and develop the understanding of
religion, culture, and good conduct that become the source of wisdom in doing
something.
2.
Mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler dalam bidang
kesenian, olah raga, keterampilan,
organisasi, dan ilmiah To develop extracurriculer activity in art,
sport, organization and academic.
3.
Melaksanakan pembelajaran, bimbingan, dan pelatihan
secara efektif, efisien dan berkesinambungan sehingga siswa dapat memperoleh
hasil belajar yang optimal sesuai dengan
potensi yang dimilikinya. Conduct the effective, effisient, and
continuous learning, consouling and training so that students can get optimum
learning in accordant with the potency of the students.
4.
Menumbuhkembangkan etos berbakti kepada seluruh
warga sekolah. To set and develop the sense of respect to all
school community
5.
Menciptakan kondisi pola
hidup sehat melalui dari bebas rokok sampai obat terlarang lainnya. To
create a healty life style through free smoking and drugs
6.
Meningkatkan pengamalan
Tri Hita Karana melalui kepedulian terhadap parahyangan, pawongan dan
palemahan (lingkungan hidup). To increase the application Of Tri Hita
Karana ( Three things for creating hapiness ) concept through caring the
temples, the people and the environment
7.
Memberikan bekal
pengetahuan dan keterampilan kepada seluruh siswa untuk dapat digunakan
dalam kehidupan bermasyarakat. To give knowledge and skill to all
students so that they can use in their social life.
8.
Membangun citra positif masyarakat terhadap
sekolah melalui penerapan manajemen ISO 9001-2008. To establish the
postive image of the society toward the school through ISO 9001-2008 Manajemen
Aplication
3.
Tujuan Sekolah
The school Objectives :
Looking
at the above vision and mision, the objctive of the school can be formulated as
follows :
1.
Mampu melaksanakan
Kurikulum dan Sistem pengujian Berbasis Kompetensi (KSPBK) dengan pendidikan
berbasis kecakapan hidup (lifeskill) serta peningkatan pelaksanaan sekolah
Rintisan SBI untuk menuju ke sekolah SBI. Being
able to do Curriculum and Assesment based on Competence(CABC) and eduction
based on lifeskill as well as to increse the action of Preparation of International Standardized School to be
International Standardized school.
2.
Rata-rata pencapaian nilai selisih (gain score
achievement) nilai ujian akhir nasional minimal : +0,5 The gain score achievement
of the minimum score of final national examination : + 0.5
3.
Mampu mencapai peringkat
antara 1 sampai dengan 20 secara nasional dalam olympiade Sains. Being able to get
the national first rank until the twentieth in Science Olympiad
4.
Jumlah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler KIR
adalah sebanyak 5 % dari jumlah siswa secara keseluruhan. The number of students joining the Research Writing
Club is 5% of the total number of the students.
5.
Jumlah siswa yang diterima
pada perguruan tinggi negeri melalui SPMB dan PMDK minimal 45% dari jumlah
siswa. The number of students accepted in State university through Entry Test
and The Search of interest, talent and achievement.
6.
Setiap siswa minimal menguasai satu jenis
kesenian daerah atau nasional. Every students have
to master one of local or national art.
7.
Memiliki tim olahraga
minimal dua cabang yang mampu menjadi finalis tingkat provinsi. Possesing at leat
two sport team which can become the finalis in province level.
8.
70% guru MIPA mampu
mengajar dengan dua bahasa (bilingual). 70%
of the science teachers can teach bilingually
9.
35% guru non MIPA mampu mengajar dengan dua bahasa
(bilingual) 35% of the non science
teachers can teach biingually
10.
70% guru mampu mengajar berbasis ICT dan E_learning. 70% of the teachers are able to teach based on ICT and
E_learning.
11.
k. 30 % guru memiliki kualifikasi pendidikan S2 30 % teachers have master qualification
6.
Tujuan dan Sasaran Supervisi
Tujuan utama supervisi adalah memperbaiki pengajaran.[29] Tujuan umum Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan
kepada guru dan staf agar personil
tersebut mampu meningkatkan kwalitas kinerjanya, dalam melaksanakan
tugas dan melaksanakan proses belajar
mengajar.
Secara operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari supervisi
pendidikan yaitu:
a.
Meningkatkan mutu kinerja guru:
b.
Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam
mencapai tujuan tersebut
c.
Membantu guru dalam
melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya.
d.
Membentuk moral
kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif,
bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan
lainnya.
e.
Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan
prestasi belajar siswa.
f.
Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi,
keahlian dan alat pengajaran.
g.
Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat
membantu guru dalam pengajaran.
h.
Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah
untuk reposisi guru.
i.
Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana
dengan baik
j.
Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang
ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan
keberhasilan siswa
k.
Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung
terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai
prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan.
l.
Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi
yang tenang dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas
pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan.
Adapun sasaran utama dari
pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut adalah
peningkatan kemampuan profesional guru.[30] Sasaran Supervisi Ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam
bentuk supervisi:
a.
Supervisi Akademik
Menitikberatkan pengamatan
supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang berlangsung berada
dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses
mempelajari sesuatu
b.
Supervisi Administrasi
Menitikberatkan pengamatan
supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan
pelancar terlaksananya pembelajaran.
c.
Supervisi Lembaga
Menyebarkan objek pengamatan
supervisor pada aspek-aspek yang berada di sekolah. Supervisi ini dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau
kinerja sekolah secara keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS
(Unit Kesehatan Sekolah), Perpustakaan dan lain-lain.[31]
7.
Prinsip-prinsip Supervisi
Secara sederhana
prinsip-prinsip Supervisi adalah sebagai berikut :
a.
Supervisi hendaknya memberikan rasa aman kepada pihak yang disupervisi.
b.
Supervisi hendaknya bersifat Kontrukstif dan Kreatif
c.
Supervisi hendaknya realistis didasarkan pada keadaan dan kenyataan sebenarnya.
d.
Kegiatan supervisi hendaknya terlaksana dengan sederhana.
e.
Dalam pelaksanaan supervisi hendaknya terjalin hubungan profesional, bukan didasarkan atas
hubungan pribadi.
f.
Supervisi hendaknya didasarkan pada kemampuan, kesanggupan, kondisi dan sikap pihak yang
disupervisi.
g.
Supervisi harus menolong guru agar senantiasa tumbuh
sendiri tidak tergantung pada kepala sekolah
Prinsip-prinsip Supervisi secara khusus
adalah sebagai berikut:
a.
Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada guru
dan staf sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan dan bukan
mencari-cari kesalahan.
b.
Pemberian bantuan
dan bimbingan dilakukan secara langsung, artinya bahwa pihak yang mendapat
bantuan dan bimbingan tersebut tanpa dipaksa atau dibukakan hatinya dapat
merasa sendiri serta sepadan dengan kemampuan untuk dapat mengatasi sendiri.
c.
Apabila supervisor merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik,
sebaiknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Sebaiknya supervisor
memberikan kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan pertanyaan
atau tanggapan.
d.
Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala misalnya 3 bulan
sekali, bukan menurut minat dan kesempatan yang dimiliki oleh supervisor.
e.
Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan
adanya hubungan yang baik antara supervisor dan yang disupervisi tercipta
suasana kemitraan yang akrab. Hal ini bertujuan agar pihak yang disupervisi
tidak akan segan-segan mengemukakan pendapat tentang kesulitan yang dihadapi
atau kekurangan yang dimiliki.
f.
Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau
terlupakan, sebaiknya supervisor membuat catatan singkat, berisi hal-hal
penting yang diperlukan untuk membuat laporan.
Sedangkan menurut Tahalele dan Indrafachrudi prinsip-prinsip supervisi sebagai berikut;
a.
supervisi harus
dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif
b.
supervisi harus
kreatif dan konstruktif
c.
supervisi harus ”scientific” dan efektif
d.
supervisi harus
dapat memberi perasaan aman pada guru-guru
e.
supervisi harus
berdasarkan kenyataan
f.
supervisi harus
memberi kesempatan kepada supervisor dan guru-guru untuk mengadakan “self evaluation”
Karena prinsip-prinsip
supervisi di atas merupakan kaidah-kaidah yang harus dipedomani atau dijadikan
landasan di dalam melakukan supervisi, maka hal itu mendapat perhatian yang
sungguh-sungguh dari para supervisor, baik dalam konteks hubungan
supervisor-guru, maupun di dalam proses pelaksanaan supervisi.
8.
Fungsi Supervisi
Adapun fungsi dari
supervisi sekolah adalah sebagai berikut:
a.
Fungsi Meningkatkan Mutu PembelajaranRuang lingkupnya sempit, hanya
tertuju pada aspek akademik, khususnya yang terjadi di ruang kelas ketika guru
sedang memberikan bantuan dan arahan kepada siswa.
b.
Fungsi Memicu Unsur yang Terkait dengan PembelajaranLebih dikenal dengan
nama Supervisi Administrasi
9.
Tipe-tipe Supervisi
Adapun tipe-tipe
supervisi adalah sebagai berikut:
a.
Tipe Inspeksi
Tipe seperti ini biasanya terjadi dalam administrasi dan model
kepemimpinan yang otokratis, mengutamakan pada upaya mencari kesalahan orang
lain, bertindak sebagai “Inspektur” yang bertugas mengawasi pekerjaan guru.
Supervisi ini dijalankan terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati
apakah guru dan petugas di sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas yang
diperintahkan serta ditentukan oleh atasannya.
b.
Tipe Laisses Faire
Tipe ini kebalikan dari tipe sebelumnya. Kalau dalam supervisi inspeksi
bawahan diawasi secara ketat dan harus menurut perintah atasan, pada supervisi
Laisses Faire para pegawai dibiarkan saja bekerja sekehendaknya tanpa diberi
petunjuk yang benar. Misalnya: guru boleh mengajar sebagaimana yang mereka
inginkan baik pengembangan materi, pemilihan metode ataupun alat pelajaran.[33]
c.
Tipe Coersive
Tipe ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi. Sifatnya memaksakan kehendaknya. Apa yang diperkirakannya sebagai
sesuatu yang baik, meskipun tidak cocok dengan kondisi atau kemampuan pihak
yang disupervisi tetap saja dipaksakan berlakunya. Guru sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengapa harus
demikian. Supervisi ini mungkin masih bisa diterapkan secara tepat untuk
hal-hal yang bersifat awal. Contoh supervisi yang
dilakukan kepada guru yang baru mulai mengajar. Dalam keadaan demikian, apabila
supervisor tidak bertindak tegas, yang disupervisi mungkin menjadi ragu-ragu
dan bahkan kehilangan arah yang pasti.[34]
d.
Tipe Training dan Guidance
Tipe ini diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan. Hal yang
positif dari supervisi ini yaitu guru dan staf tata usaha selalu mendapatkan
latihan dan bimbingan dari kepala sekolah. Sedangkan dari sisi negatifnya
kurang adanya kepercayaan pada guru dan karyawan bahwa mereka mampu
mengembangkan diri tanpa selalu diawasi, dilatih dan dibimbing oleh atasannya.[35]
e.
Tipe Demokratis
Selain kepemimpinan yang bersifat demokratis, tipe ini juga memerlukan
kondisi dan situasi yang khusus. Tanggung jawab bukan hanya seorang pemimpin
saja yang memegangnya, tetapi didistribusikan atau didelegasikan kepada para
anggota atau warga sekolah sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.[36]
10.
Jenis teknik Supevisi
Sahertian dan Mataheru
menyebutkan teknik supervisi terdiri dari individual
deviation (bersifat individual) dan group
devices (bersifat kelompok). Teknik supervisi yang bersifat individual
antara lain; kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling
mengunjungi kelas, dan menilai diri sendiri. Sedangkan teknik
yang bersifat kelompok diantara adalah; panel of forum discussion,curriculum laboratry, directed reading,
demonstration teaching, professional libraries, supervisory bulletin, teacher meeting,
professional oraganization, workshop of group work.
Evan dan Neagly menyebutkan teknik supervisi
terdiri dari; individual techniques
(teknik perorangan) dan group techniques (teknik
kelompok). Individual techniques
terdiri atas; assignment of teachers,
classroom visitation and observation, classroom experimentation, colleges
course, conference (individual), demonstration teaching, evaluation,
proffesional reading, professional writing, supervisory bulletins, informal
contacts. Sedangkan yang termasuk teknik kelompok (group techniques) diantaranya adalah; orientation of new teacher, development of professional libraries, visiting
other teachers, coordinating of student teacing.
11.
Supervisi Visi dan Misi Sekolah
Visi
aadalah menyangkut tentang sesuatu yang
diinginkan dari sekolah dan keinginan ini dapat bersumber dari masyarakat
sebagai pengguna sekolah dan pemerintah sebagai pihak yang berkepentingan dan
bertanggung jawab terhadap sekolah. Sementara misi menyangkut teang sesuatu yag
dilakukan oleh sekolah untuk memeuhi keinginan pihak-pihak pengguna dan yang
berkepentingan dengan sekolah. Seiring dengan itu pihak sekolah pasti punya
tujuan.[37]
Dalam
perspektif otonomi pendidikan, maka apakah tujuan yang esensial dari
sekolah? Setidaknya tidak jauh dari visi
dan misi yang telah ditetapkan sebelumnya, sebagaimana telah penulis sajikan
contohnya diatas.
Visi
dan misi merupakan bagian integaral dari usaha mewujudkan tujuan pendidikan
nasional sekaligus sebagai strategi peningkatan mutu. Merujuk kepada amanat
undang-undang nomor 20 tahun 2003 tetang
sistem pendidikan nasional, Departemen Pendidikan Nasional menetapkan visi pendidikan nasional sebagai
berikut:
“Terwujudnya
sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk
memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang
berkualitas sehingga mampu dan proaktif dalam menjawab tantangan zaman yang
selalu berubah.”[38]
Misi
pendidikan nasional adalah sebagai berikut: (1) mengupayakan
perluasan dan pemerataan penempatan kesempatan memperoleh pendidikan yang
bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.
(2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional
(3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantang
global (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secaa
utuh sejak dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
(5) meningkatkan kesiapan masukan
kepribadian yang bermoral. (6) meingkatkan keprofesionalan dan
akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan,
keterampilan, pengalaman, sikap dan nilai berdasarkan prinsip otonomi dalam
konteks negara kesatuan republik indonesia.[39]
Dalam
rangka mewujudkan visi dan menjalankan misi pendidikan nasional, diperlukan
satu acuan dasar setiap penyelenggara dan satuan pendidikan yang antara lain
meiputi kriteria dan kriteria minimal berbagai aspek yang terkait dengan
penyelenggaraan pendidikan. Dalam kaitan ini, kriteria peyelengaraan pendidikan
itu adalah sebagai berikut:
1.
Pendidikan yang memliki muatan yang seimbang dan holistik
2.
Pro pembelajaran yang demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong
kreativitas, dan dialogis.
3.
Hasil pendidikan yang bermutu dan terukur
4.
Berkembangnya profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan
5.
Tersedianya saran dan prasarana belajar yang meungkinkan
berkembangnya potensi peserta didik secara optimal
6.
Berkembangnya pengelolaan pendidikan yang memberayakan satuan
pendidikan
7.
Terlaksananya evaluasi, alridetasi dan sertifikasi yang
berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.[40]
Acuan
dasar tersebut diatas merupakan standar nasional pendidikan yang dimaksudkan
untuk mengacu pengelola, penyelenggara dan satuan pendidikan agar dapat
meningkatkan kinerjanya dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu.
Selain itu standar nasional pendidikan juga dimaksudkan sebagai perangkat untuk
menorong terwujudnya transparansi dan akuntabilitas publik dalam
penyelenggaraan sistem pendidikan nasional.[41]
a.
Definisi Visi dan Misi
Sekolah
Secara harfiah
visi dapat diartikan apa yang diinginkan, sedangkan misi adalah apa yang kita
lakukan. Visi adalah tujuan dari didirikanya sekolah tersebut. Visi harus singkat, mudah diingat. Misi
adalah pernyataan yang berhubungan dengan visi. Apabila visi menyatakan dasar
tujuan dari sekolah maka misi adalah operasionalisasi dari visi, yang meliputi
asek jangka panjang, penjabaran dari misi tersebut harus dibuat sedemikian rupa
sehingga jelas dan berbeda dari yang lain. Pernyataan misi tersebut saat ini menjadi
ujung tombak dibidang pendidikan.[42]
Hal yang
penting diperhatikan penjabran misi harus didukung dengan misi harus didukung
dengan strategi kualitas jangka panjang yang baik dan tujuan dari institusi
tersebut harus dapat disampaikan dengan jelas.[43]
Misi yang telah dijabarkan akan menjadi dasar rujukan dalam menyusun dan
mengambangkan rencana program kegiatan yang memiliki indikator SMART (spesifik,
measurabel, achievable, realistic, time bound). Misi harus dapat direalisasikan
melalui kebijakan, rencana, program, dan kegiatan sekolah yang disusun secara
cermat, futuristik, dan berbasis demam-driven.[44]
b.
Keharusan Keberadaan Visi dan Misi
Tujuan yang
mendasar yang membedakan satu lembaga dengan lembaga sekolah lainya yang
sejenis dan menjelaskan cakupan operasinya dalam bentuk output didefinisikan
dan dijabarkan dalam misi sekolah. Misi sekolah adalah pernyataan atau rumusan
umum yang luas dan bersifat tahan lama dimana merupakan maksud dari sekolah.
Karena dia juga mengandung filosofi pendidikan daripada pengambilan keputusan
strategis sekolah, menyiratkan citra yang ingin disampaikan oleh sekolah, yang
mencerminkan konsep diri sekolah,
utamanya pelanggan yang akan dipenuhi sekolah. Dengan adanya visi dan
misi sekolah tercapai pula pemberdayaan sarana dan prasarana.[45]
c.
Mekanisme Penyusunan Visi dan Misi Sekolah
Tujuan sekolah
adalah segala sesuatu yang harus dicapai organisasi dalam melaksanakan misinya.
Visi memuat statmen umum yang ideal dari satu sekolah. Berikut ini kita akan
melihat beberapa rancangan syarat visi dan misi sekolah yang baik.
1)
Mudah diingat
2)
Mudah untuk dikomunikasikan
3)
Latar belakang usaha sekolah harus jelas
4)
Komitmen keberhasilan dan kualitas sekolah harus diungkap dengan
jelas
5)
Pernyataan tujuan jangka panjang dari sekolah harus ada
6)
Fokus pada pelanggan dan fleksibel[46]
BAB III
PENUTUP
C.
KESIMPULAN
Dari uraian
makalah diatas, maka dapatlah disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1.
Kegiatan evaluasi merupakan kegiatan yang tidak
dapat dipisahkan dari kegiatan pngejaran karena kedua hal ini mempunyai
keterkaitan dan hubungan yang sangat erat.Maherens dan Lehman mengutip sebuah
ungkapan yang berbunyi to teach without testing is unthinkable (mengajar
tanpa melakukan tes tidak masuk akal)
2.
Supervisi pendidikan diarahkan sebagai usaha untuk meningkatkan
atau memperbaiki mutu pada setiap jenjang pendidikan dalam suatu sistem
pendidikan nasional merupakan sebuah keniscayaan. Perkembangan ilmu pengetahuan
dalam bidang psikologi, telah memberikan isyarat bagi pengembangan metodologi
pembelajaran yang sebagian besar guru daat mendalaminya.
3.
Visi aadalah menyangkut tentang
sesuatu yang diinginkan dari sekolah dan keinginan ini dapat bersumber
dari masyarakat sebagai pengguna sekolah dan pemerintah sebagai pihak yang
berkepentingan dan bertanggung jawab terhadap sekolah.
4.
Misi adalah pernyataan yang berhubungan dengan visi. Apabila visi
menyatakan dasar tujuan dari sekolah maka misi adalah operasionalisasi dari
visi, yang meliputi asek jangka panjang, penjabaran dari misi tersebut harus
dibuat sedemikian rupa sehingga jelas dan berbeda dari yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Petunjuk
Pelaksanaan Supervisi Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. (Jakarta: Bumi Aksara,
2008)
Depdiknas, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Buku
1. 2006)
Depdiknas, Panduan Penyelenggaraan Program Rintisan SMA Bertaraf
Internasional (Jakarta: tp., 2009)
Dersal William, Prinsip dan Teknik Supervisi Dalam Pemerintahan
dan Perusahaan (Jakarta: Bhatara Karya Akasara, 2008)
Diat Prasojo, Lantip dan Sudiyono, Supervisi Pendidikan (Yogyakarta:
Gava Media, 2011)
Djam’an. Analisis Kebijaksanaan Dalam Konteks
Desentralisasi Dan Otonomi Pendidikan (Jakarta:
Rineka Cipta, 2009)
Douglas, Har. L., Democratic Supervision Secondary Schools (Cambridge:
The Riverside Press, 2007)
Elliot W. Eisner, The Education Imagination (New York:
Cooler Mc Milan Publisher, 2009)
Harian Pikiran Rakyat (edisi 26 Juni 2006)
Hikmat, Manajemen Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2009)
http://www.smanichibangli.sch.id/visi-a-misi-sekolah.html
James Marks, Hand Book Educational Supervition (Boston: Alin
and Bacon Inc, 2005)
Mukhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2009)
Purwanto, M. Ngalim, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi
Pengajaran cet ke X (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006)
Salim, Edward, Total Quality Management in Education (London:
Kogan Page Limited, 1993)
Sudiyono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2007)
Suke Silverius, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik (Jakarta:
Grasindo, 2005)
Suparman, Manajemen Pendidikan Masa Depan (Artikel, Jakarta;
Dikti Depdiknas, 2005)
Thaha, M. Chabib, Teknik Evaluasi Pendidikan (Jakarta:
Grafindo, 2008)
ENDEKATAN
SUPERVISI DALAM PEMBUATAN VISI DAN MISI
Oleh : Anang Nazaruddin, S.Pd.I.
Widyaiswara Pertama

ABSTRAK
Visi
merupakan menyangkut tentang sesuatu yang diinginkan dari sekolah dan keinginan
ini dapat bersumber dari masyarakat sebagai pengguna sekolah dan pemerintah
sebagai pihak yang berkepentingan dan bertanggung jawab terhadap sekolah.
Misi adalah
pernyataan yang berhubungan dengan visi. Apabila visi menyatakan dasar tujuan
dari sekolah maka misi adalah operasionalisasi dari visi, yang meliputi asek
jangka panjang, penjabaran dari misi tersebut harus dibuat sedemikian rupa
sehingga jelas dan berbeda dari yang lain. Dalam perumusan visi dan misi
bukanlah hal yang mudah, biasanya suatua sekolah hanya mampu membuat visi dan
misi yang merupakan warisan dari pendahulu, dalam perkembangan dunia pendidikan
sekarang pendekatan supervisi ketika merumuskan visi dan misi sangat jarang
digunakan, oleh karena itu penulis mencoba untuk menganalisa bagaimana
seharusnya penggunaan supervisi ketika sebuah sekolah mau merumuskan visi dan
misinya
Kata Kunci :
Visi dan Misi, Supervisi.
A.
Pendahuluan
Saat ini
lingkungan pendidikan yang sangat kompetitif akan memiliki dampak seperti
tuntutan untuk selalu membangun keunggulan kompetitif, pemutakhirkan peta
perjalanan (roadmap) organisasi secara berkelanjutan, penentuan langkah-langkah
strategik ke depan, pengerahkan, pemusatkan kapabilitas dan komitmen seluruh
staf dalam mewujudkan masa depan organisasi.
Dan
kecenderungan umum, pendidikan saat ini hanya mengandalkan anggaran tahunan
sebagai alat perencana masa depan organisasi, sehingga menjadi tidak koheren
antara Visi dan Misi, Tujuan organisasi, Rencana Jangka Pendek dan Jangka
Panjang, Implementasi.
Sebagian
besar organisasi hanya mengandalkan manajemen puncak untuk menyusun perencanaan
strategik, sementara manajemen menengah sampai karyawan hanya melakukan
implementasi rencana jangka panjang dan pendek. Sistem ini hanya pas untuk
lingkungan yang stabil yang di dalamnya prediksi masih dapat diandalkan untuk
memperkirakan masa depan organisasi. Dalam pengembangan aktivitas, sebuah
sekolah harus melibatkan seluruh unit kerja dan personel didalamnya dalam
perencanaan strategiknya untuk mengubah mode operasi organisasi dari plan and
control menjadi sense and respond. Dengan mekanisme baru ini, diharapkan akan
dapat terlihat dan terukur seluruh kinerja organisasi dalam berbagai level.
Namun tidak semua sekolah dapat menyusun rencana strategiknya dengan baik
sehingga semua hanya bisa terlihat dalam anggaran tahunan bahkan ada juga yang
rencana strategiknya tersusun namun tidak terealisasi dalam anggaran tahunan,
atau dalam kata lain apanya yang direncanakan tidak sesuai dengan apa yang
dianggarkan.
Oleh karena
itu dengan pendekatan supervisi hal tersebut dicoba untuk diselesaikan sehingga
menulis mencoba untuk membuat analisa yang berjudul ‘Menyusun Rencana Strategik
Sekolah Dengan Pendekatan Supervisi“.
B.
Permasalahan
Visi dan
misi merupakan elemen yang sangat penting dalam organisasi, dimana visi dan
misi digunakan agar dalam operasionalnya bergerak pada track yang diamanatkan
oleh para stakeholder dan berharap mencapai kondisi yang diinginkan dimasa yang
akan datang.
Pada saat
perumusan visi misi biasanya merupakan proses yang melelahkan bahkan sering
menjadi perdebatan sendiri antar anggota organisasi. Tetapi pada saat visi dan
misi sudah terbentuk, pelaksanaannya menjadi tidak sesuai. Jadi sungguh
disayangkan sekali jika proses perumusan visi misi yang melelahkan pada
akhirnya hanya menjadi hiasan dinding semata. Dalam sebuah tulisan di Kompas
(2009) mengungkapkan ”Sering kali pernyataan visi misi organisasi kurang tepat
menggambarkan tujuan organisasi sehingga sering di jumpai adanya kesulitan pada
saat melakukan deploy visi misi menjadi set of action yang akan
digunakan untuk mengukur kinerja organisasi dengan menggunakan metode balance
scorecard”. Pertanyaannya adalah kenapa hal ini bisa terjadi?
Jansen
Sinamo (2005) yang memberikan 12 kriteria mengenai kriteria visi dan misi yang
hidup dan efektif, yang terpenting yang bisa diambil yaitu:
1.Visi-misi
harus sesuai dengan roh zaman dan semangat perjuangan organisasi
2.Visi-misi
harus mampu menggambarkan sosok organisasi idaman yang mampu memikat hati orang
3.Visi-misi
harus mampu menjelaskan arah dan tujuan organisasi
4.Visi-misi
harus mudah dipahami karena diungkapkan dengan elegan sehingga mampu
menjadipanduan taktis dan strategis
5.Visi-misi
harus memiliki daya persuasi yang mampu mengungkapkan harapan, aspirasi,
sentimen, penderitaan para stakeholder organisasi
6.Visi-misi
harus mampu mengungkapkan keunikan organisasi dan menyarikan kompetensi khas
organisasi tersebut yang menjelaskan jati dirinya dan apa yang mampu
dilakukannya
7.Visi-misi
harus ambisius, artinya ia harus mampu mengkiristalkan keindahan, ideal
kemajuan, dan sosok organisasi dambaan masa depan, sehingga mampu meminta
pengorbanan dan investasi emosional dari segenap stakeholder organisasi.
Dalam hal
perumusannya, terdapat perbedaan pendapat mengenai mana yang harus ditetapkan
terlebih dahulu; visi atau misi? di kalangan pakar dan praktisi manajemen
strategik terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah misi dulu yang dietapkan
baru misi atau sebaliknya.
1.Fred R.
David (2003) berpendapat visi dirumuskan lebih dulu baru misi.
2.Gerry Johnson
dan Kevan Scholes (1996) serta Robert S. Kaplan dan David P. Norton (2003)
berpendapat misi yang dirumuskan terlebih dulu.
3.Peter F
Drucker berpendapat “hanya Terlepas dari apakah misi atau visi yang ditetapkan
terlebih dahulu, pernyataan misi hendaknya dapat dengan jelas menunjukkan
alasan keberadaan dan “bisnis” atau kegiatan pokok organisasi yang bersangkutan
yang berkenaan dengan nilai dan harapan para stakeholder
Namun
terlepas dari yang mana lebih dulu disusun maka hambatan yang sering terjadi
disekolah ketika mau merumuskan visi dan misi adalah :
1.Kurangnya
koordinasi dari semua stakeholders sehingga ketika selesai disusun maka
terkesan kurang menyentuh seluruh waga sekolah.
2.Kurangnya
pengetahuan tentang apa yang seharusnya direncanakan dalam jangka pendek dan
menengah sehingga dalam menyusun visi dan misi mengikuti punya sekolah lain
atau mengikuti yang terdahulu saja.
Dari dua permasalahan
yang mendasar diatas maka penulis mencoba mencari solusi dengan pendekatan
supervsi, dari literatur yang ada baik dari buku atau internet penulis agak
kesulitan menemukannya karena ini merupakan hal yang baru, namun penulis
berupaya untuk
menyelesaikannya.
C.
Hakekat
strategi perumusan visi, misi, tujuan, sasaran dan kegiatan organisasi
pendidikan
1. Visi
Visi adalah wawasan yang menjadi sumber arahan bagi sekolah dan digunakan untuk
memandu perumusan visi sekolah. Dengan kata lain, visi adalah pandangan jauh ke
depan kemana sekolah akan dibawa. Visi adalah gambaran masa depan yang
diinginkan oleh sekolah, agar sekolah yang bersangkutan dapat menjamin
kelangsungan hidup dan perkembangannya.
Gambaran tersebut tentunya harus didasarkan pada landasan yuridis, yaitu
undang-undang pendidikan dan sejumlah peraturan pemerintahnya, khususnya jumlah
pendidikan nasional sesuai jenjang dan jenis sekolahnya dan juga sesuai dengan
profil sekolah yang bersangkutan. Dengan kata lain, visi sekolah harus tetap
dalam koridor kebijakan pendidikan nasional tetapi sesuai dengan kebutuhan anak
dan masyarakat yang dilayani. Tujuan pendidikan nasional sama tetapi profil
sekolah khususnya potensi dan kebutuhan masyarakat yang dilayani sekolah tidak
selalu sama. Oleh karena itu dimungkinkan sekolah memiliki visi yang tidak sma
dengan sekolah lain, asalkan tidak keluar dari koridor nasional yaitu tujuan
pendidikan nasional.
Visi juga dapat dilihat sebagai pandangan kedepan dengan memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a.
Berorientasi
kemasa depan yang lebih baik , bukan status quo
b.
Antisipasi
tentang kecenderungan perkembangan sejarah , budaya dan nilai-nilai yang dianut
organisasi
c.
Keunikan
(kekhasan) dan kompetensi yang ditonjolkan
d.
Standart
keunggulan, mewujudkan cita-cita yang tinggi dan ambisi yang kuat
e.
Rangsangan
insprisasi, antusiasme, dan komitmen
f.
Kejalan atau
sebagai arah untuk ,mencapai tujuan.
Sebagai contoh, sebuah sekolah yang terletak di perkotaan, mayorotas siswanya
berasal dari keluarga mampu dan hampir seluruh lulusannya ingin nelanjutkan ke
sekolah yang lebih tinggi, merumuskan visinya sebagai berikut:
UNGGUL DALAM
PRESTASI
BERDASARKAN
IMTAQ
Sementara itu sekolah yang terletak di daerah pedesaan yang umumnya tidak lebih
maju dari pada sekolah di perkotaan, merumuskan visinya sebagai berikut :
TERDIDIK
BERDASARKAN IMTAQ
Kedua visi
tersebut sama-sama benar sepanjang masih dalam koridor tujuan pendidikan
nasional. Tentu saja, perumusan visi harus disesuaikan dengan tujuan dari
setiap jenjang jenis sekolah sebagaimana dituliskan dalam peraturan pemerintah.
Visi yang
pada umumnya dirumuskan dalam kalimat yang filiosofis seperti contoh tersebut,
seringkali memiliki aneka tafsir. Setiap orang menafsirkan secara berbeda-beda,
sehingga dapat menimbulkan perselisihan dalamimplementasinya. Bahkan jika
teerjadi pergantian kepala sekolah yang baru tidak jarang memberi tafsir yang
berbeda dengan kepala sekolah sebelumnya. Oleh karena itu, sebaiknya diberikan
indikator sebagai penjelasan apa yang dimaksud oleh visi tersebut. Sebagai
contoh, visi yang dituliskan UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMAN DAN
TAQWA, diberi indikator sebagai berikut :
a.
Unggul dalam
perolehan NEM;
b.
Unggul dalam
persaingan melanjutkan ke jenjang pendidikan diatasnya;
c.
Unggul dalam
lomba karya ilmiah;
d.
Unggul dalam
lomba kreativitas;
e.
Unggul dalam
lomba kesenian.
2. Misi
Misi adalah tindakan untuk mewujudkan/merealisasikan visi tersebut. Karena visi
harus mengakomodasi semua semua kelompok kepentingan yang terkait dengan
sekolah, maka misi dapat juga diartikan sebagai tindakan untuk memnuhi
kepentingan masing-masing kelompok yang terkait dengan sekolah. Dalam
merumuskan misi, harus mempertimbangkan tugas pokok sekolah dan
kelompok-kelompok kepenting yang terkait dengaan sekolah. Dengan kata lain,
misi adalah bentuk layanan untuk memenuhi tuntutan yang dituangkan dalam visi
dengan berbagai indikatornya.
Misalnya,
sebuah sekolah yang memiliki visi “UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMTAQ”
merumuskan misinya sebagai berikut :
a.
Melaksanakan
pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa berkembang
secara optimal,sessuai dengan potensi yang dimiliki.
b.
Menumbuhkan
semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga
sekolah.
c.
Mendorong
dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi
dirinya,sehingga dapat dikmbangkan secara
optimal.
d.
Menumbuhkan
penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa sehingga
menjadi sumber kearifan dalam bertindak
e.
Menerapkan
manajemen partisiptif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan kelompok
kepentingan yang terkait dengan sekolah (stakeholders).
3. Sasaran
Bertolak dari visi dan misi, selanjutnya sekolah merumuskan tujuan.
Tujuan merupakan “apa” yang akan dicapai/dihasilkan oleh sekolah yang
bersangkutan dan “kapan’ tujuan akan dicapai. Jika misi dan misi terkait dengan
jangka waktu yang panjang, maka tujuan dikaitkan dengan jangka waktu 3-5 tahun.
Dengan demikian tujuan pada dasarnya merupakan tahapan wujud sekolah menuju
visi yang telah dicanangkan.
Jika visi
merupakan gambaran sekolah di masa depan secara utuh (ideal), maka tujuan
yang ingin dicapai dalam jangka waktu 3 tahun mungkin belum se ideal visi atau
belum selengkap visi. Dengan kata lain, tujuan merupakan tahapan untuk mencapai
visi Sebagai contoh sebuah sekolah telah mendapatkan visi dengan
indikator sebanyak 9 aspek, tetapi, tujuannya sampai tahun 2004
baru mencakup 5 aspek sebagai berikut :
a.
Pada tahun
2004, gain score achievment (GSA) siswa meningkat +01.
b.
Pada tahun
2004, proposal lulusan yang melanjutkan ke sekolah unggul minimal 40%.
c.
Pada taghun
2004, memiliki kelompok KIR dan mampu menjadi finalis LKIR tingkat nasional.
d.
Pada
tahun 2004, memiliki tim olah raga minimal 3 cabang dan mampu menjadi
finalis tingkat propinsi.
e.
Pada
tahun2004, memiliki tim kesenian yang mampu tampil pada acara setingkat
kabupaten/kota.
4. Sasaran / Tujuan Situasional
Setelah tujuan sekolah (tujuan jangka menengah) dirumuskan, maka langkah
selanjutnya adalah memetapkan sasaran /target/ tujuan situasional/ tujuan
jangka pendek. Sasaran adalah penjabaran yaitu sesuatu yang akan
dihasilkan/dicapai oleh sekolah dalam jangka waktu lebih singkat dibandingkan
tujuan sekolah. Rumusan sasaran harus selalu mengandung peningkatan, baik
peningkatan kualitas, efektifitas, produktivitas, maupun efisiensi (bisa salah
satu atau kombinasi). Agar sasaran dapat dicapai dengan efektif, maka sasaran
harus dibuat spesifik, terukur, jelas kriterianya, dan disertai
indikator-indikator yang rinci. Meskipun sasaran bersumber dari tujuan namun
dalam penentuan sasaran yang mana dan berapa besar kecilnya sasaran, tetap
harus didasarkan atas tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah.
D.
Metode
Supervisi yang Digunakan
Dalam
penyelesaian masalah yang terjadi ketika penyusunan visi dan misi sekolah maka
supervisi yang digunakan adalah supervisi manajerial karena penekanan yang
dilakukan adalah perbaikan manajerial sekolah, dalam supervisi manajerial ada
beberapa hal yang dilakukan diantaranya adalah :
- Monitoring dan Evaluasi
a.
Monitoring/Pengawasan
Monitoring
adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan
penyelenggaraan sekolah, apakah sudah sesuai dengan rencana, program, dan/atau
standar yang telah ditetapkan, serta menemukan hambatan-hambatan yang harus
diatasi dalam pelaksanaan program (Rochiat, 2008: 115). Monitoring lebih
berpusat pada pengontrolan selama program berjalan dan lebih bersifat klinis.
Melalui monitoring, dapat diperoleh umpan balik bagi sekolah atau pihak lain
yang terkait untuk menyukseskan ketercapaian tujuan. Aspek-aspek yang dicermati
dalam monitoring adalah hal-hal yang dikembangan dan dijalankan dalam Rencana
Pengembangan Sekolah (RPS). Dalam melakukan monitoring ini tentunya pengawas
harus melengkapi diri de- ngan parangkat atau daftar isian yang memuat seluruh
indikator sekolah yang harus diamati dan dinilai.
Secara
tradisional pelaksanaan pengawasan melibatkan tahapan: (a) menetapkan standar
untuk mengukur prestasi, (b) mengukur prestasi, (c) menganalisis apakah
prestasi memenuhi standar, dan (d) mengambil tindakan apabila prestasi
kurang/tidak memenuhi standar (Nanang Fattah, 1996: 102).
b.
Evaluasi
Kegiatan
evaluasi ditujukan untuk mengetahui sejauhmana kesuksesan pelaksanaan
penyelenggaraan sekolah atau sejauhmana keber- hasilan yang telah dicapai dalam
kurun waktu tertentu. Tujuan evaluasi utamanya adalah untuk (a) mengetahui
tingkat keterlaksanaan program, (b) mengetahui keberhasilan program, (c)
mendapatkan bahan/masukan dalam perencanaan tahun berikutnya, dan (d)
memberikan penilaian (judgement) terhadap sekolah.
- Refleksi dan Focused Group Discussion
Sesuai dengan paradigma baru manajemen sekolah yaitu pember- dayaan dan
partisipasi, maka judgement keberhasilan atau kegagalan sebuah sekolah
dalam melaksanakan program atau mencapai standar bukan hanya menjadi otoritas
pengawas. Hasil monitoring yang dilakukan pengawas hendaknya disampaikan secara
terbuka kepada pihak sekolah, terutama kepala sekolah, wakil kepala sekolah,
komite sekolah dan guru. Secara bersama-sama pihak sekolah dapat melakukan
refleksi terhadap data yang ada, dan menemukan sendiri faktor-faktor penghambat
serta pendukung yang selama ini mereka rasakan. Forum untuk ini dapat ber- bentuk
Focused Group Discussion (FGD), yang melibatkan unsur-unsur stakeholder
sekolah. Diskusi kelompok terfokus ini dapat dilakukan da- lam beberapa putaran
sesuai dengan kebutuhan.Tujuan dari FGD adalah untuk menyatukan pandangan stakeholder
mengenai realitas kondisi (kekuatan dan kelemahan) sekolah, serta
menentukan langkah-langkah strategis maupun operasional yang akan diambil
untuk memajukan sekolah. Peran pengawas dalam hal ini adalah sebagai
fasilitator sekaligus menjadi narasumber apabila diperlukan, untuk memberikan
masukan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.
- Metode Delphi
Metode Delphi
dapat digunakan oleh pengawas dalam membantu pihak sekolah merumuskan visi,
misi dan tujuannya. Sesuai dengan konsep MBS, dalam merumuskan Rencana
Pengembangan Sekolah (RPS) sebuah sekolah harus memiliki rumusan visi, misi dan
tujuan yang jelas dan realistis yang digali dari kondisi sekolah, peserta
didik, potensi daerah, serta pandangan seluruh stakeholder.
Sejauh ini
kebanyakan sekolah merumuskan visi dan misi dalam susunan kalimat “yang
bagus”, tanpa dilandasi oleh filosofi dan pendalaman terhadap potensi yang ada.
Akibatnya visi dan misi tersebut tidak realistis, dan tidak memberikan
inspirasi kepada warga sekolah untuk mencapainya.
Metode Delphi
merupakan cara yang efisien untuk melibatkan banyak stakeholder sekolah
tanpa memandang faktor-faktor status yang sering menjadi kendala dalam
sebuah diskusi atau musyawarah. Misalnya sekolah mengadakan pertemuan bersama
antara sekolah, dinas pendidikan, tokoh masyarakat, orang murid dan guru, maka
biasanya pembicaraan hanya didominasi oleh orang-orang tertentu yang percaya
diri untuk berbicara dalam forum. Selebihnya peserta hanya akan menjadi
pendengar yang pasif.
Metode Delphi
dapat disampaikan oleh pengawas kepada kepala sekolah ketika hendak mengambil
keputusan yang melibatkan banyak pihak. Langkah-langkahnya menurut Gorton
(1976: 26-27) adalah sebagai berikut:
a.
Mengidentifikasi
individu atau pihak-pihak yang dianggap memahami persoalan dan hendak dimintai
pendapatnya mengenai pengembangan sekolah;
b.
Masing-masing
pihak diminta mengajukan pendapatnya secara tertulis tanpa disertai
nama/identitas;
c.
Mengumpulkan
pendapat yang masuk, dan membuat daftar urutannya sesuai dengan jumlah orang
yang berpendapat sama.
d.
Menyampaikan
kembali daftar rumusan pendapat dari berbagai pihak tersebut untuk diberikan
urutan prioritasnya.
e.
Mengumpulkan
kembali urutan prioritas menurut peserta, dan menyampaikan hasil akhir
prioritas keputusan dari seluruh peserta yang dimintai pendapatnya.
- Workshop
Workshop
atau lokakarya merupakan salah satu metode yang dapat ditempuh pengawas
dalam melakukan supervisi manajerial. Metode ini tentunya bersifat kelompok dan
dapat melibatkan beberapa kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan/atau
perwakilan komite sekolah. Penyelenggaraan workshop ini tentu disesuaikan
dengan tujuan atau urgensinya, dan dapat diselenggarakan bersama dengan
Kelompok Kerja Kepala Sekolah atau orga- nisasi sejenis lainnya. Sebagai
contoh, pengawas dapat mengambil inisiatif untuk mengadakan workshop tentang
pengembangan KTSP, sistem administrasi, peran serta masyarakat, sistem
penilaian dan sebagainya
Dari
empat metode yang digunakan dalam mensupervisi manajerial maka metode yang
terbaik adalah metode delphi ketika mau menyusun visi dan misi sekolah namun
metode ini masih sangat jarang digunakan oleh supervisor mungkin banyak
hambatan yang menghadang ketika mau menerapkan metode ini
E.
Kesimpulan
Penyusunan visi dan misi sekolah bukanlah hal yang mudah, perlu kajian yang
mendalam dan melibatkan semua stakeholders sehingga apa yang diinginkan
tercakup didalamnya. Visi dan misi sekolah memuat banyak hal yang besar seperti
tujuan yang ingin dicapai sampai hal yang kecil namun sangat urgen seperti
anggaran tahunan, semua ini harus direncakan dengan sebaik-baiknya sehingga
dalam pelaksanaan identitas sebuah sekolah dapat terlihat hanya dengan membaca
visi dan misi nya.
Namun
pada kenyataannya menyusun visi dan misi bukanlah hal yang mudah walaupun semua
stakeholders dilibatkan tetapi masih saja kesulitan, oleh karena itu diperlukan
supervisi ketika kesulitan ini terjadi, adapun metode yang digunakan adalah
supervisi manajerial, dalam supervisi manajerial ada beberapa metode yang
digunakan yaitu monitoring dan evaluasi, refleksi dan focused group discussion,
metode delphi dan terakhir workshop, adapun metode yang paling tepat digunakan
dalam hal ini adalah metode delphi.
DAFTAR PUSTAKA
Glickman,
C.D 1995. Supervision of Instruction. Boston: Allyn And Bacon Inc.
Gwynn, J.M.
1961. Theory and Practice of Supervision. New York: Dodd, Mead & Company.
http://pakguruonline.pendidikan.net
Junaedi,
edy. 2006. Visi yang Bervisi. http://www.btn.co.id
McPherson,
R.B., Crowson, R.L., & Pitner, N.J. 1986. Managing Uncertainty:
Administrative Theory and Practice in Education. Columbus, Ohio: Charles E.
Merrill Pub. Co.
Oliva, Peter
F. 1984. Supervision For Today’s School. New York: Longman.
Rusydi,
febdian. 2004. Kenapa Misi – Visi?. http://kampanye.febdian.net/misi-visi.htm
Hru. 2006. Mereview Kembali Visi Misi Organisasi.
Sergiovanni,
T.J. 1982. Editor. Supervision of Teaching. Alexandria: Association for
Supervision and Curriculum Development.
Sinamo,
Jansen. 2005 .Visi dan Misi; Kekuatan atau Hiasan. http://www.pembelajar.com
Tadjudin,
M.K., 2002. Asesmen Institusi untuk Penentuan Kelayakan Perolehan Status Lembaga
yang Mengakreditasi Diri bagi Perguruan Tinggi: Dari Akreditasi Program Studi
ke Audit Lembaga Perguruan Tinggi. Jakarta: BAN-PT.
Supervisi
Recent Posts
- Masalah Praktis Pendidikan
- Masalah Teoritis Pendidikan
- selengkapnya update berita pendidikan
- Supervisi
- Proposal otomasi perpustakaan
Recent Comments
Meta
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Pengawasan
atau yang biasa disebut supervisi merupakan salah satu unsur penting dalam
dunia pendidikan. Supervisi dapat membantu dalam mewujudkan tujuan pendidikan
dan menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan, oleh karena itu supervisi perlu
dilakukan dengan cara yang baik dan benar, sebab pendidikan merupakan faktor
utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam
membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Menyadari
akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, karena
dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa
yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
Supervisi
juga berupaya untuk menjadikan guru-guru yang professional dalam mengajar,
karena guru merupakan ujung tombak dari keberhasilan pendidikan. Pendidikan itu
dikatakan berhasil apabila dapat mencapai tujuan-tujuannya. Salah satu realita
yang terjadi saat ini adalah kekeliruan paradigma guru tentang adanya
supervisi. Masih ada guru-guru yang takut bila disupervisi. Padahal supervisor
tidak bertindak sebagai pihak yang hanya mencari kesalahan-kesalahan guru
dalam melaksanakan tugasnya, melainkan supervisor berperan untuk memberikan
layanan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh guru.
Agar program
pendidikan dapat berjalan efektif, maka diperlukan pengawasan dalam
pelaksanaanya. Oleh karena itu supervisi harus tanggap terhadap segala sesuatu
yang sedang terjadi di sekolah, terutama mengenai masalah-masalah yang dialami
guru-guru maupun karyawan. Menyadari hal itu diperlukan pembahasan tentang
supervisi pendidikan yang lebih mendetail agar para pelaku pendidikan dapat
memahami akan pentingnya supervisi pendidikan itu.
Berdasarkan
hal tersebut diatas penyusun merasa tertarik untuk memilih tema supervisi
pendidikan di sekolah dalam makalah ini.
1.2.Rumusan
Masalah
1.2.1.
Identifikasi Masalah
Supervisi
dianggap sebagai suatu hal yang menakutkan bagi para guru, sebab pandangan guru
mengenai supervisi yaitu hanya mencari kesalahan-kesalahan guru dalam
melaksanakan tugasnya. Padahal hakekat supervisi adalah melakukan pembinaan
terhadap guru menyangkut perbaikan proses belajar mengajar dan tujuan supervisi
pendidikan adalah membantu sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Bahkan
supervisi berperan untuk membantu dalam mengatasi segala masalah yang dihadapi
oleh para guru. Semua aspek dalam pembelajaran menjadi sasaran supervisi.
1.2.2.
Pertanyaan Masalah
- Bagaimanakah
upaya supervisi dalam meningkatkan proses belajar mengajar yang lebih
kondusif?
- Teknik
supervisi apa yang paling efektif untuk diterapkan dalam pelaksanaan di
sekolah?
- Apakah
respon dan sikap guru-guru terhadap supervisi?
- Apakah
kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi?
1.3. Tujuan
Penulisan Makalah
- Tujuan
Umum
Untuk
memperdalam pemahaman tentang seluk beluk dari supervisi pendidikan di sekolah.
- Tujuan
Khusus
- Untuk
mengidentifikasi peran supervisi dalam meningkatkan proses belajar
mengajar yang lebih kondusif.
- Untuk
mengidentifikasi pengertian supervisi pendidikan, prinsip-prinsip
supervisi pendidikan, tujuan supervisi pendidikan, fungsi supervisi
pendidikan, tipe supervisi pendidikan, proses supervisi pendidikan,
teknik supervisi pendidikan, metode supervisi pendidikan, dan jenis
supervisi pendidikan.
- Untuk
mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi
pendidikan
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Pengertian
Supervisi
adalah usaha mencapai hasil yang diinginkan dengan cara mendayagunakan
bakat/kemampuan alami manusia dan sumber-sumber yang memfasilitasi, yang
ditekankan pada pemberian tantangan dan perhatian yang sebesar-besarnya
terhadap bakat/kemampuan alami manusia. (George R. Terry )
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara ( UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Bab 1 Ketentuan Umum Pasal 1 )
Supervisi
Pendidikan adalah proses memberi bantuan kepada sekolah agar mampu menciptakan
situasi dan kondisi yang lebih kondusif, sehingga sekolah mampu mewujudkannya
ke arah tercapainya tujuan pendidikan
2.2
Prinsip-prinsip supervisi
- Prinsip
ilmiah
1)
Sistematis
Pelaksanaannya
secara teratur, terprogram dan berkelanjutan.
2)
Objektif
Berdasarkan
data konkrit yang dapat dipertangggungjawabkan, yang dapat diperoleh dari
observasi atau penelitian.
3)
Instrument
Menggunakan
alat yang dapat memberikan informasi yang akurat, dapat dianalisis, dan dapat
mengukur ataupun menilai terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar.
- Prinsip
demokratis
Supervisor
memberikan kesempatan pada orang yang disupervisi untuk mengemukakan
pendapatnya. Menjunjung tinggi asas musyawarah, memiliki jiwa kekeluargaan yang
kuat serta sanggup menerima pendapat orang lain.
- Prinsip
kooperatif
Supervisor
selalu mengutamakan kerjasama dengan bawahannya demi kemajuan dan
pengembangan pendidikan dalam rangka menciptakan ituasi belajar mengajar yang
kondusif.
- Prinsip
konstruktif dan kreatif
Supervisor
senantiasa berusaha membangkitkan semangat membangun, mengembangkan
potensi bawahannya demi peningkatan prestasi dan produktivitas kerja. Kritik
yang bersifat membangun adalah ciri dari proses supervisi. Supervisor juga
memperhatikan pada inisiatif, daya cipta, penelitian, dan hasil-hasil penemuan
bawahannya dengan memberikan penghargaan, piagam atau predikat-predikat
keteladanan.
2.3
Tujuan supervisi pendidikan
Tujuan umum
supervisi harus sama dengan tujuan pendidikan nasional sesuai dengan Keputusan
MPR yang tertera dalam GBHN, melalui perbaikan serta peningkatan kegiatan
belajar mengajar.
Tujuan
khusus supervisi, sebagai berikut:
- Membina
para guru agar lebih memahami tujuan umum pendidikan, sehinggga satiap
guru dapat mengajar dan mencapai prestasi maksimal bagi siswa-siswanya.
- Membina
para guru mengatasi masalah-masalah siswa untuk kemajuan prestasi
belajarnya.
- Membina
para guru mempersiapkan siswanya untuk menjadi anggota masyarakat yang
produktif, kreatif, etis serta religious.
- Membina
para guru meningkatkan kemampuan mengevaluasi, mendiagnosa kesulitan
belajar, dan lain-lain.
- Membina
para guru memperbesar kesadaran tentang tata kerja yang demokratis,
kooperatif, serta kegotongroyongan.
- Memperbesar
ambisi para guru dan karyawan dalam meningkatkan mutu profesinya.
- Membina
para guru dan karyawan meningkatkan popularitas sekolahnya.
- Memberikan
perlindungan untuk para guru dan karyawan pendidikan terhadap tuntutan
serta kritik-kritik tak wajar dari masyarakat.
- Mengembangkan
sikap kesetiakawanan dan ketemansejawatan dari seluruh tenaga
kependidikan.
2.4
Fungsi supervisi pendidikan
- Fungsi
Utama
Membantu
sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan, khususnya perkembangan individu para
siswa.
- Fungsi
Tambahan
Membantu
sekolah membina guru-guru agar dapat bekerja dengan baik dan berontrak dengan
masyarakat dalam rangka penyesuaian diri dan penggalakan kemajuan masyarakat.
Dengan lebih
terjabar, Sahertian & Mataheru (1981) mengemukakan tujuan operasional
supervisi pendidikan:
- Membantu
guru-guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan
- Membantu
guru-guru dalam membimbing pengalaman belajar murid-murid
- Membantu
guru-guru dalam menggunakan sumber-sumber pengalaman belajar
- Membantu
guru-guru dalam menggunkan metode-metode dan alat-alat pelajaran modern
- Membantu
guru-guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid-murid
- Membantu
guru-guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru-guru dalam
rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka
- Membantu
guru-guru baru di sekolah sehingga mereka merasa gembira dengan tugas yag
diperolehnya
- Membantu
guru-guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap masyarakat dan
cara-cara menggunakan sumber-sumber masyarakat dan seterusnya.
- Membantu
guru-guru agar waktu dan tenaga guru tercurahkan sepenuhnya dalam pembinaan
sekolah.
Sedangkan
fungsi supervisi pendidikan, menurut analisis Swearingen (yang dikutip
Sahertian & Mataheru,1981:26) yaitu:
- Mengoordinasi
semua usaha sekolah
- Memperlengkapi
kepemimpinan sekolah
- Memperluas
pengalaman guru-guru
- Member
stimulus untuk usaha-usaha yang kreatif
- Memberikan
fasilitas dan penilaian yang terus menerus
- Menganalisis
situasi belajar dan mengajar
- Memberikan
pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap anggota staf
- Mengintegrasikan
tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru
2.5
Tipe-tipe Supervisi
- Tipe
Inspeksi
Tipe seperti
ini biasanya terjadi dalam administrasi dan model kepemimpinan yang otokratis,
mengutamakan pada upaya mencari kesalahan orang lain, bertindak sebagai
“Inspektur” yang bertugas mengawasi pekerjaan guru. Supervisi ini dijalankan
terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan petugas di
sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas yang diperintahkan serta ditentukan
oleh atasannya.
- Tipe
Laisses Faire
Tipe ini kebalikan dari tipe sebelumnya. Kalau dalam supervisi inspeksi bawahan diawasi secara ketat dan harus menurut perintah atasan, pada supervisi Laisses Faire para pegawai dibiarkan saja bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk yang benar. Misalnya: guru boleh mengajar sebagaimana yang mereka inginkan baik pengembangan materi, pemilihan metode ataupun alat pelajaran. - Tipe
Coersive
Tipe ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi. Sifatnya memaksakan kehendaknya. Apa yang diperkirakannya sebagai sesuatu yang baik, meskipun tidak cocok dengan kondisi atau kemampuan pihak yang disupervisi tetap saja dipaksakan berlakunya. Guru sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengapa harus demikian. Supervisi ini mungkin masih bisa diterapkan secara tepat untuk hal-hal yang bersifat awal. Contoh supervisi yang dilakukan kepada guru yang baru mulai mengajar. Dalam keadaan demikian, apabila supervisor tidak bertindak tegas, yang disupervisi mungkin menjadi ragu-ragu dan bahkan kehilangan arah yang pasti. - Tipe
Training dan Guidance
Tipe ini diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan. Hal yang positif dari supervisi ini yaitu guru dan staf tata usaha selalu mendapatkan latihan dan bimbingan dari kepala sekolah. Sedangkan dari sisi negatifnya kurang adanya kepercayaan pada guru dan karyawan bahwa mereka mampu mengembangkan diri tanpa selalu diawasi, dilatih dan dibimbing oleh atasannya. - Tipe
Demokratis
Selain kepemimpinan yang bersifat demokratis, tipe ini juga memerlukan kondisi dan situasi yang khusus. Tanggung jawab bukan hanya seorang pemimpin saja yang memegangnya, tetapi didistribusikan atau didelegasikan kepada para anggota atau warga sekolah sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.
2.6
Jenis supervisi pendidikan
No
|
Jenis Supervisi Pendidikan
|
|
Supervisi Umum
|
Supervisi Klinis
|
|
1
|
Ide datang
dari supervisor
|
Ide datang
dari guru yang bersangkutan (guru mengemukakan keluhan kepada supervisor
untuk memperoleh solusi)
|
2
|
Sasarannya
segala aspek
|
Sasarannya
hanya khusus mengenai kemampuan guru dalam proses belajar mengajar
|
3
|
Memperbaiki
semua aspek pendidikan di sekolah
|
Memperbaiki
kinerja guru dalam meningkatkan proses belajar mengajar yang kondusif
|
2.7
Teknik-teknik supervisi pendidikan
Ada berbagai
teknik supervisi pendidikan yang dapat diterapkan pada berbagai kesempatan dan
kondisi yang berbeda. Secara umum teknik-teknik itu dapat digolongkan menjadi
dua kelompok yaitu teknik yang bersifat individual dan teknik yang bersifat
kelompok. Teknik yang bersifat individual atau perseorangan adalah teknik yang diperuntukkan
bagi guru seorang diri. Sedangkan yang bersifat kelompok adalah teknik yang
digunakan bagi sekelompok guru secara bersama-sama.
Berikut ini
akan diuraikan secara singkat beberapa teknik supervisi ( yang dapat pula
disebut teknik-teknik “in-service training”:
- Ceramah
Metode
ceramah adalah salah satu metode in-service training dimana penceramah yang
paling giat menyampaikan pengetahuan dan ulasan, sedangkan pendengar hanya
mendengarkan dan membuat catatan. Pada masa lampau metode ini didewa-dewakan,
tetapi kini dalam dunia persekolahan telah dibatasi. Metode ceramah akan
menjadi efektif apabilamemperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1)
Garis besar penceramah hendaknya sudah berada di tangan pendengar dua atau tiga
hari sebelum ceramah diadakan. Hal ini mempermudah pendengar mengikuti dan
menangkap isinya.
2)
Ruangan dan perlengkapan lainnya hendaknya sudah dipersiapkan sebelum ceramah
dimulai.
3)
Ceramah hendaknya diselenggarakan di tempat yang tenang dan menyenangkan.
4)
Penceramah hendaknya menyampaikan ceramahnya dengan cara atau gaya menarik.
5)
Setelah ceramah usai, hendaknya para pendengar diberi kesempatan mengajukan
pertanyaan, tanggapan, atau saran-saran yang berguna.
6)
Setelah ceramah, kepada para pendengar dibagikan lembar evaluasi untuk
mengetahui reaksi dari pihak pendengar. Dat dari lembar ini dapat dipakai
sebagai bahan pertimbangan atau umpan balik untuk perencanaan dan pelaksanaan
ceramah yang akan datang.
- Metode
kunjungan
Yang
dimaksud metode kunjungan ialah perjalanan sekolah atau school journey, dimana
para guru mengunjungi objek pendidikan dengan maksud mempelajarinya, seperti
studi banding.
- Kunjungan
kelas
Kunjungan
kelas adalah suatu metode yang dilakukan oleh orang yang berfungsi sebagai
supervisor kedalam kelas ketika guru sedang mengajar ( dan murid sedang
belajar).
Kunjungan
kelas dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1)
Kunjungan tanpa pemberitahuan
Kunjungan
tanpa pemberitahuan dapat menemukan fakta-fakta riil dan otentik, tetapi
hasilnya belum tentu mutlak karena ketidaksiapan psikologis dari guru maupun
siswa dengan adanya supervisor. Jadi belum tentu mendapatkan bukti otentik.
2)
Kunjungan dengan pemberitahuan
Kunjungan
dengan diberitahukan terlebih dahulu bertujuan untuk melihat kemampuan
yang maksimal dari seorang guru karena yang dilakukan pada kegiatan dalam kelas
merupakan manipulasi guru. Sehinggga supervisor hanya memberikan penguatan
terhadap sesuatu yang kurang memenuhi syarat.
3)
Kunjungan atas undangan guru
Kunjungan
atas permintaan dari guru bertujuan untuk mengobservasi guru dalam mengajar
atas permintaan dari guru tersebut.
- Pengajaran
contoh
Pengajaran
contoh dapat dilakukan oleh supervisor atau orang yang dianggap mampu
mendemonstrasikan hal tertentu. Demonstrasi mengajar ini dilaksanakan di dalam
kelas sungguhan sedangkan para guru turut hadir di belakang dan mengamatinya.
- Pemutaran
film
Pemutaran
film dapat pula digunakan sebagai metode untuk membantu para guru bertumbuh
dalam jabatannya. Misalnya film tentang system modul. Dengan menonton film ini,
guru memperoleh tambahan pengetahuan tentang cara mengajar dengan system modul.
Pada prinsipnya pemutaran film sama dengan demonstrasi mengajar karena film
yang diperlihatkan adalah hasil rekamn visual dari demonstrasi mengajar.
Perbedaan dari kedua metode ini ialah yang satu diperagakan langsung
(demonstrasi mengajar), sedangkan pemutaran film bersifat tidak langsung yaitu
melalui gambar.
- Perpustakaan
Perpustakaan
sering diibaratkan sebagai gudang ilmu pengetahuan karena terdapat berbagai
ragam buku pengetahuan. Apabila perpustakaan digunakan sebagaimana mestinya,
maka akan berpengaruh terhadap mutu pendidikan di sekolah. Untuk itu
perpustakaan perlu dilengkapi dengan berbagai buku dan berkala mutakhir.
- Mengikuti
kursus
Kursus
umumnya bertujuan membekali para peserta dengan ketrampilan tertentu yang
berguna bagi pengembangan karir lebih lanjut. Guru-guru dapat mengikuti kursus
tertentu yang menunjang pengajarannya atau pengelolaan pendiidkan di
sekolahnya.
- Lokakarya
Lokakarya
dapat diartikan dengan berbagai cara mulai dari bengkel sampai tempat untuk
menggodok suatu gagasan atau konsep.dengan lokakarya, guru diberi kesempatan
melatih atau menempa dirinya untuk lebih mumpuni sebagai pengajar dan pendidik
di sekolah.
2.8
Metode-metode supervisi pendidikan
- a.
Supervisi Manajerial
1.
Monitoring dan Evaluasi
Metode utama
yang mesti dilakukan oleh pengawas satuan pendidikan
dalam
supervisi manajerial tentu saja adalah monitoring dan evaluasi.
a. Monitoring/Pengawasan
Monitoring
adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan
penyelenggaraan sekolah, apakah
sudah sesuai
dengan rencana, program, atau standar yang telah
ditetapkan,
serta menemukan hambatan-hambatan yang harus diatasi
dalam
pelaksanaan program (Rochiat, 2008: 115). Monitoring lebih
berpusat
pada pengontrolan selama program berjalan dan lebih bersifat
klinis.
Melalui monitoring, dapat diperoleh umpan balik bagi sekolah atau pihak lain
yang terkait untuk menyukseskan ketercapaian tujuan. Aspek-aspek yang dicermati
dalam monitoring adalah hal-hal yang dikembangan dan dijalankan dalam Rencana
Pengembangan Sekolah (RPS). Dalam melakukan monitoring ini tentunya pengawas
harus melengkapi diri dengan perangkat atau daftar isian yang memuat seluruh
indikator sekolah yang harus diamati dan dinilai.
Secara
tradisional pelaksanaan pengawasan melibatkan tahapan:
(a)
menetapkan standar untuk mengukur prestasi
(b)
mengukur prestasi
(c)
menganalisis apakah prestasi memenuhi standar
(d)
mengambil 19 tindakan apabila prestasi kurang/tidak memenuhi standar (Nanang
Fattah,1996: 102).
Dalam
perkembangan terakhir, kecenderungan pengawasan dalam dunia pendidikan juga
mengikuti apa yang dilakukan pada industri, yaitu dengan menerapakan Total
Quality Controll. Pengawasan ini tentu saja terfokus pada pengendalian mutu
dan lebih bersifat internal. Oleh karena itu pada akhir-akhir ini setiap
lembaga pendidikan umumnya memiliki unit penjaminan mutu.
b. Evaluasi
Kegiatan
evaluasi ditujukan untuk mengetahui sejauhmana kesuksesan pelaksanaan
penyelenggaraan sekolah atau sejauhmana keberhasilan
yang telah
dicapai dalam kurun waktu tertentu.
Tujuan
evaluasi utamanya adalah:
(a)
mengetahui tingkat keterlaksanaan program
(b)
mengetahui keberhasilan program
(c)
mendapatkan bahan/masukan dalam perencanaan tahun berikutnya
(d)
memberikan penilaian (judgement) terhadap sekolah.
2. Refleksi
dan Focused Group Discussion
Sesuai
dengan paradigma baru manajemen sekolah yaitu pemberdayaan dan partisipasi,
maka judgement keberhasilan atau kegagalan sebuah sekolah dalam
melaksanakan program atau mencapai standar bukan hanya menjadi otoritas
pengawas. Hasil monitoring yang dilakukan pengawas hendaknya disampaikan secara
terbuka kepada pihak sekolah, terutama kepala sekolah, wakil kepala
sekolah, komite sekolah dan guru. Secara bersama-sama pihak sekolah dapat
melakukan refleksi terhadap data yang ada, dan menemukan sendiri faktor-faktor
penghambat serta pendukung yang selama ini mereka rasakan. Forum untuk ini
dapat berbentuk Focused Group Discussion (FGD), yang melibatkan
unsur-unsur stakeholder sekolah. Diskusi kelompok terfokus ini dapat
dilakukan dalam beberapa putaran sesuai dengan kebutuhan.Tujuan dari FGD adalah
untuk menyatukan pandangan stakeholder mengenai realitas kondisi
(kekuatan dan kelemahan) sekolah, serta menentukan langkah-langkah strategis
maupun operasional yang akan diambil untuk memajukan 20 sekolah. Peran pengawas
dalam hal ini adalah sebagai fasilitator sekaligus
menjadi narasumber
apabila diperlukan, untuk memberikan masukan
berdasarkan
pengetahuan dan pengalamannya.
3. Metode Delphi
Metode Delphi
dapat digunakan oleh pengawas dalam membantu pihak sekolah merumuskan visi,
misi dan tujuannya. Sesuai dengan konsep MBS, dalam merumuskan Rencana
Pengembangan Sekolah (RPS) sebuah sekolah harus memiliki rumusan visi, misi dan
tujuan yang jelas dan realistis yang digali dari kondisi sekolah, peserta
didik, potensi daerah, serta pandangan seluruh stakeholder. Sejauh ini
kebanyakan sekolah merumuskan visi dan misi dalam susunan kalimat “yang bagus”,
tanpa dilandasi oleh filosofi dan pendalaman terhadap potensi yang ada.
Akibatnya visi dan misi tersebut tidak realistis, dan tidak memberikan
inspirasi kepada warga sekolah untuk mencapainya.
Metode Delphi
merupakan cara yang efisien untuk melibatkan banyak stakeholder sekolah
tanpa memandang faktor-faktor status yang
sering
menjadi kendala dalam sebuah diskusi atau musyawarah.
Misalnya
sekolah mengadakan pertemuan bersama antara sekolah, dinas pendidikan, tokoh
masyarakat, orang murid dan guru, maka biasanya pembicaraan hanya didominasi
oleh orang-orang tertentu yang percaya diri untuk berbicara dalam forum.
Selebihnya peserta hanya akan menjadi pendengar yang pasif.
Metode Delphi
dapat disampaikan oleh pengawas kepada kepala
sekolah
ketika hendak mengambil keputusan yang melibatkan banyak
pihak.
Langkah-langkahnya menurut Gorton (1976: 26-27) adalah sebagai berikut:
a.
Mengidentifikasi individu atau pihak-pihak yang dianggap memahami
persoalan
dan hendak dimintai pendapatnya mengenai pengembangan
sekolah;
b.
Masing-masing pihak diminta mengajukan pendapatnya secara tertulis tanpa
disertai nama/identitas;
c.
Mengumpulkan pendapat yang masuk, dan membuat daftar urutannya sesuai dengan
jumlah orang yang berpendapat sama.
d.
Menyampaikan kembali daftar rumusan pendapat dari berbagai pihak tersebut untuk
diberikan urutan prioritasnya.
e.
Mengumpulkan kembali urutan prioritas menurut peserta, dan
menyampaikan
hasil akhir prioritas keputusan dari seluruh peserta yang dimintai pendapatnya.
4. Workshop
Workshop atau
lokakarya merupakan salah satu metode yang dapat ditempuh pengawas dalam
melakukan supervisi manajerial. Metode ini tentunya bersifat kelompok dan dapat
melibatkan beberapa kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan/atau perwakilan
komite sekolah. Penyelenggaraan workshop ini tentu disesuaikan dengan tujuan
atau urgensinya, dan dapat diselenggarakan bersama dengan Kelompok Kerja Kepala
Sekolah atau organisasi sejenis lainnya. Sebagai contoh, pengawas dapat
mengambil inisiatif untuk mengadakan workshop tentang pengembangan KTSP, system
administrasi, peran serta masyarakat, sistem penilaian dan sebagainya.
2.9
Pelaksanaan supervisi pendidikan di sekolah
Seorang
supervisor yang datang ke sekolah untuk melakukan supervisi dapat
memilih/memulai dengan menyupervisi sesuatu atau beberapa aspek yang dapat
dipilihnya sebagai salah satu bidang garapan atau sub bidang garapan.
Kegiatan
supervisor berturut-turut dapat dilukiskan sebagai berikut:
- Menyupervisi
rencana kerja (program)
- Menyupervisi
pelaksanaan
- Menyupervisi
hasil pelaksanaan
- Dari
pelaksanaan supervisi a, b, dan c maka supervisor dapat memberikan
evaluasi terhadap seluruh kegiatan tersebut.
BAB III
PEMBAHASAN MASALAH
3.1
Upaya supervisi dalam meningkatkan proses belajar mengajar yang lebih kondusif.
Tindakan dan
upaya supervisi dalam meningkatkan proses belajar mengajar yang lebih kondusif
yaitu supervisor harus bisa memberi bantuan layanan untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapi oleh guru. Oleh sebab itu, supervisor harus
benar-benar paham mengenai tujuan, fungsi, prinsip-prinsip, metode, serta
teknik supervisi agar memperoleh manfaat yang optimal berupa guru yang
professional. Karena guru memegang peranan penting dalam proses belajar
mengajar dan guru juga berhubungan secara langsung dengan peserta didik.
Supervisi
yang baik hendaknya mengembangkan kepemimpinan di dalam kelompok, membangun
program latihan dalam jabatan untuk meningkatkan keterampilan guru, dan
membantu guru meningkatkan kemampuannya dalam menilai hasil pekerjaannya.
3.2
Teknik supervisi yang paling efektif untuk diterapkan dalam pelaksanaan di
sekolah.
Teknik-teknik
supervisi, yaitu:
- Ceramah
- Metode
kunjungan
- Metode
kunjungan kelas
- Pengajaran
contoh
- Pemutaran
film
- Perpustakaan
- Mengikuti
kursus
- Lokakarya
Diantara
seluruh teknik-teknik supervisi diatas, teknik yang paling efektif untuk
diterapakan dalam pelaksanaan di sekolah yaitu teknik yang sesuai dengan
kebutuhan atau karakteristik sekolah tersebut. Jadi penggunaan teknik yang
disesuaikan dengan kondisi sekolah merupakan teknik yang paling tepat.
3.3
Respon dan sikap guru-guru terhadap supervisi.
Respon dan
sikap guru-guru terhadap supervisi:
- Para
guru menghendaki supervisi dari kepala sekolah, sebagaimana yang
seharusnya dikerjakan oleh tenaga personel yang berjabatan supervisor.
- Kepala
sekolah tidak melakukan supervisi dengan baik
- Para
guru lebih menghargai dan menilai secara positif perilaku supervisi yang
“hangat”, saling mempercayai, bersahabat, dan menghargai guru,
- Supervisi
dianggap bermanfaat bila direncanakan dengan baik, supervisor menunjukkan
sifat membantu dan menyediakan model-model pengajaran yang efektif
- Supervisor
memberikan peran serta yang cukup tinggi kepada guru untuk pengambilan
keputusan dalam wawancara supervisi
- Supervisor
mengutamakan pengembangan keterampilan hubungan insani, seperti halnya
dengan keterampilan teknis
- Supervisor
seharusnya menciptakan iklim organisasional yang terbuka, yang
memungkinkan pemantapan hubungan yang saling menunjang (supportive).
- Sikap
dan respon guru tidak terlalu positif terhadap supervisi yang dilakukan
supervisor
3.4
Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi.
Kendala-kendala
yang kurang menunjang keefektifan supervisi, antara lain:
- Sikap
personil sekolah yang kurang positif terhadap supervisi pengelola teknis
edukatif.
- Kurangnya
keterampilan supervisi kepala sekolah.
- Pengendalian
emosional supervisor dalam menerima respons guru.
- Kepala
sekolah yang berperan juga sebagai supervisi karena kurangnya tenaga guru
harus memegang kelas atau bidang studi tertentu, sehingga kurang fokus
terhadap perannya sebagai supervisor.
- Supervisor
tidak mengkomunikasikan rencana atau program supervisinya kepada para guru
sebagai subyek supervisi.
- Fokus
supervisi hanya terarah pada aspek administrasi, kurang menyentuh pada
pengembangan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar.
- Supervisor
tidak melaksanakan kunjungan kelas secara serius.
- Supervisor
mendominasi pembicaraan dan berjalan satu arah.
- Tidak
ada penilaian umpan balik.
- Supervisor
tidak pernah meminta pada guru untuk meminta pada guru untuk memberikan
komentar maupun penilaian terhadap supervisi yang telah dilaksanakan.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1
Simpulan
Supervisi
pendidikan adalah suatu kegiatan yang digunakan dalam pendidikan untuk
menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan dalam sasaran segala aspek, guna
tercapainya tujuan pendidikan.Hakekat dari supervisi itu adalah pembinaan.
Tujuan supervisi adalah mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih
kondusif melalui pembinaan dan peningkatan profesionalisme. Sasaran utama
supervisi pendidikan adalah meningkatkan professional guru dan karyawan sekolah
guna menunjang akuntabilitas siswa dalam belajar, sehingga siswa benar-benar
menjadi manusia yang berilmu, berbudi dan kreatif dalam segala hal sesuai
dengan amanah UUD 45.
Supervisor
harus benar-benar paham mengenai tujuan, fungsi, prinsip-prinsip, metode, serta
teknik supervisi agar memperoleh manfaat yang optimal berupa guru yang
professional. Berbagai kendala yang terjadi dalam supervisi, sebagian besar
disebabkan oleh kurangnya komunikasi antara guru dan supervisor, sehingga
respon guru terhadap adanya supervisi kurang maksimal dan cenderung
dianggap sebagai suatu hal yang menegangkan pada saat di supervisi.
Supervisi
yang baik akan menghasilkan pola kinerja yang baik, jika supervise dilakukan
dengan cara dan metode yang benar pula, tentu ini menuntut pengetahuan yang
benar pula bagi para supervisi dalam melaksanakan tugasnya.
4.2
Saran
Dari hasil
kesimpulan diatas, penyusun dapat memberikan saran sebagai berikut:
- Pelaksanaan
supervisi sebaiknya profesional dan supervisor menjalin komunikasi yang
baik dengan pihak yang disupervisi agar tercipta hubungan kerjasama yang
saling menunjang satu sama lain.
- Supervisor
sebaiknya tidak hanya mencari kesalahan-kesalahan guru, melainkan dapat
membina dan membantu mengatasi masalah guru agar paradigma guru yang
menganggap supervisi sebagai suatu hal yang ditakuti oleh para guru dapat
diubah.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan,Ary
H.2002.Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro).Jakarta:PT Rineka
Cipta
Kaluge,Laurens.2003.Sendi-Sendi
Manajemen Pendidikan.Surabaya:UNESA University Press
PELAKSANAAN PROGRAM
SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012
DISUSUN OLEH : TITIN
SULISTIAWATI, S.Pd.
KEPALA SLB AYAHBUNDA
PENGESAHAN
Mengetahui dan
mengesahkan Tanggal : …………………………………….
Pengawas SLB Provinsi
Jawa Barat
Asep A.S. Hidayat,
M.MPd
NIP.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami sampaikan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa
yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan sehingga kami dapat menyelesaikan
pelaksanaan supervisi guru oleh kepala sekolah semester genap tahun pelajaran
2011/2012. Laporan Pelaksanaan Supervisi ini merupakan salah satu wujud dari
pelaksanaan kompetensi kepala sekolah sebagai supervisor yakni melakukan
pemantauan, supervisi, mengevaluasi dan melakukan tindaklanjut dari pelaksanaan
supervisi tersebut. Laporan ini berisikan pendahuluan, profil sekolah, program
supervisi valuasi dan penutup dalam supervisi kepala sekolah. Kami menyadari pelaksanaan
tugas yang tertuang dalam laporan supervisi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan pada masa
yang akan datang.
Bogor, Juli 2012
Kepala SLB Ayahbunda
TitinSulistiawati,
S.Pd
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ………………………………………………………….. i
Kata Pengantar ………………………………………………………………… ii
Daftar Isi ………………………………………………………………………… iii
I. Pendahuluan
a. Latar Belakang …………………………………………….. 1
b. Tujuan ……………………………………………………….. 3
c. Sasaran ……………………………………………………… 3
II. Profil Sekolah …………………………………………………… 5
a. Visi …………………………………………………………….. 6
b. Misi ……………………………………………………………. 6
c. Tujuan ……………………………………………………….. 7
d. Pelaksanaan Program Supervisi Kepala sekolah Tahun 2011/2012 ……………………………………………. 7
III. Evaluasi
a. Deskripsi Hasil ……………………………………………….. 15
b. Pembahasan ………………………………………………….. 17
IV. Penutup a. Kesimpulan ……………………………………………………. 18
V. Daftar Pustaka …………………………………………………… 20
Lampiran ………………………………………………………………………… 21
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam upaya menuju tercapainya tujuan pendidikan
dengan baik, apakah itu tujuan Instruksional, tujuan ekstrakurikuler, maupun
tujuan nasional, banyak faktor yang mempengaruhi dan berperan penting
didalamnya, diantaranya supervisi-supervisi dalam tugas dan fungsi kepengawasan
ditujukan kepada usaha memperbaiki situasi belajar mengajar, sehingga
terciptanya proses interaksi yang baik antara pendidikan dengan peserta didik
dalam usaha mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan.
Kepala sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di
dalam mendorong guru untuk melakukan
proses pembelajaran untuk mampu menumbuhkan kemampuan kreatifitas, daya
inovatif, kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis dan memiliki naluri jiwa
kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan.


Tidak
diragukan lagi keampuhan supervisi dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman
pendidik dan tenaga kependidikan mengenai tugas dan fungsinya di sekolah,
sehingga mereka mempunyai dedikasi dan loyalitas tinggi, tetapi supervisi dapat
juga mengembangkan sumberdaya manusia (pendidik dan tenaga
kependidikan).Apalagi berpegang pada prinsip supervisi yang konstruktif dan
kreatif. Para pendidik dan tenaga kependidkan akan sungguh merasa terbina, merasa
dalam suasana aman, sehingga lahirlah inisiatif, aktivitas, kreativitas dan
inovasi dalam mengembangkan potensi mereka yang seoptimal mungkin dengan penuh
tanggungjawab, yang pada akhirnya akan menghasilkan para pendidik yang
berkualitas, karena itu pelaksanaan mekanisme supervisi harus dilakukan secara
terprogram, teratur, terencana, dan kontinyu. Bertitik tolok dari uraian di
atas maka koordinasi antara kepala sekolah dan pengawas mutlak dilakukan.

1.
Memperoleh
keadaan tentang keberhasilan dan masalah yangdihadapi oleh Guru, dan Tenaga
Kependidikan dalampenyelenggaran KBM dan sekolah.
2.
Memberi
masukan kepada Guru, Tenaga Kependidikan di sekolah, Pendidikan, Bupati dan
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
C.
Sasaran
1.
Tugas
dan fungsiWakil Kepala Sekolah,Guru dalam
upaya kualitas kerja dan peningkatan mutu pendidikan
2.
Pembuatan
program, penjabaran kelender pendidikan, laporan terhadap semua
perangkat/bidang tugas yang ada, dan lain-lain yang berhubungan dengan
pengelolaan pembelajaran dalam upaya membangun mekanisme kerja di sekolah.
3.
Point
2, disampaikan
dalam bentuk format, contoh-contoh dan makalah yang dipersiapkan oleh kepala
sekolah, sehingga apa yang harus dilakukan dapat segera ditindak lanjuti oleh
Wakil Kepala Sekolah, dan Guru.
4.
Kompetensi
Guru, dan persyaratan sekolah untuk melaksanakan KTSP dengan berbasis karakter
dalam Pelaksanaan KBM.
5.
Beberapa upaya yang harus dilakukan dalam membangun
kembali kultur guru yang diharapkan, sehingga tugas yang berat dalam
meningkatkan mutu pendidikan dapat dilaksanakan dengan baik

BAB II
PROFIL
SEKOLAH
Nama
Sekolah
: SLB Ayahbunda
Alamat
Sekolah
:
Jalan
: Anggur Raya No. 5-6 Perum II
Parungpanjang
Desa /
Kec
: Parungpanjang
Kabupaten
:
Bogor
Kode Pos : 16360
Provinsi
: Jawa Barat
Telpon
:
021 – 94353661 / 081386341482
Email
: slbaybun@yahoo.co.id
Status
Sekolah : Swasta
Penyelenggara
: Yayasan Ayahbunda
Akta
Notaris :
Nadira,SH. Akta tanggal 2 Agustus 2004 No. 1
Ijin
Operasional : No. 421.9/SK-5759-PLB


Status
Bangunan
: Permanen (Milik Sendiri)
Status Tanah
: Hak Guna Bangunan No. 487
Desa
: Lumpang
Kecamatan
: Parungpanjang
Kabupaten
:
Bogor
Kode
Pos
: 16360
Provinsi
: Jawa Barat
A. Visi
SLB Ayahbunda
“Membina
anak menjadi aktif, kreatif, inovatif, produktif, mandiri dan berbudi pekerti”.
B.
Misi SLB Ayahbunda
1. Mengutamakan
kualitas pendidikan
2. Meningkatkan
kualitas pendidikan secara kontinyu
3. Menjalin
kerjasama dengan pemerintah dan masyarakat
4. Meningkatkan
kelengkapan sarana dan prasarana
pendidikan
5. Partisipasi
aktif orang tua, pendidik dan peserta didik.
C.
Tujuan SLB
Ayahbunda

“ Mewujudkan lulusan SLB yang taqwa
kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa dan berkarakter mulia yang aktif, kreatif,
inovatif, produktif, mandiri.
D. Pelaksanaan Program Supervisi
Kepala Sekolah Tahun Pelajaran 2011/2012
Kepala sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di
dalam mendorong guru untuk melakukan
proses pembelajaran untuk mampu menumbuhkan kemampuan kreatifitas, daya
inovatif, kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis dan memiliki naluri jiwa
kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan.
Salah satu tugas kepala sekolah/madrasah adalah melaksanakan supervisi
akademik. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan
keterampilan konseptual, interpersonal dan teknikal (Glickman, at al; 2007).
Oleh sebab itu, setiap kepala sekolah/madrasah harus memiliki dan
menguasai konsep supervisi akademik yang meliputi: pengertian, tujuan dan
fungsi, prinsip-prinsip, dan dimensi-dimensi substansi supervisi akademik.

1. Memahami konsep,
prinsip, teori dasar, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan tiap bidang
pengembangan pembelajaran kreatif, inovatif, pemecahan masalah, berpikir kritis
dan naluri kewirausahaan
2. Membimbing guru
dalam menyusun silabus tiap bidang pengembangan di sekolah/madrasah atau mata
pelajaran di sekolah/madrasah berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan
kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP.
3. Membimbing guru
dalam memilih dan menggunakan strategi/ metode/teknik pembelajaran/bimbingan
yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa.
4. Membimbing guru
dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/ bimbingan (di kelas, laboratorium,
dan/atau di lapangan) untuk mengembangkan potensi siswa.
5. Membimbing guru
dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan
fasilitas pembelajaran.
6. Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk
pembelajaran.

1.
Konsep Supervisi Akademik
Supervisi
akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya
mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989,
Glickman, et al; 2007). Supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian kinerja
guru dalam mengelola pembelajaran. Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi
praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat kondisi
nyata kinerja guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa yang
sebenarnya terjadi di dalam kelas?, apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan
siswa di dalam kelas?, aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di
dalam kelas itu yang bermakna bagi guru dan murid?, apa yang telah dilakukan
oleh guru dalam mencapai tujuan akademik?, apa kelebihan dan kekurangan guru
dan bagaimana cara mengembangkannya?. Berdasarkan jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru
dalam mengelola pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa
setelah melakukan penilaian kinerja berarti selesailah pelaksanaan supervisi
akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan tindak lanjutnya berupa pembuatan
program supervisi akademik dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
2.
Tujuan
dan fungsi supervisi akademik

Tujuan supervisi akademik adalah:
a. membantu guru
mengembangkan kompetensinya,
b. mengembangkan
kurikulum,
c. mengembangkan
kelompok kerja guru, dan membimbing penelitian tindakan kelas (PTK) (Glickman,
et al; 2007, Sergiovanni, 1987).

![]() |
Gambar
1. Tiga tujuan supervisi akademik
Supervisi akademik merupakan salah satu (fungsi mendasar
(essential function)
dalam keseluruhan program sekolah (Weingartner, 1973; Alfonso dkk., 1981; dan
Glickman, et al; 2007). Hasil supervisi akademik berfungsi sebagai sumber informasi
bagi pengembangan profesionalisme guru.
3.
Antisipatif
a.
Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.
b.
Sistematis, artinya dikembangan sesuai perencanaan program supervisi yang
matang dan tujuan pembelajaran.
c.
Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen.
d.
Realistis, artinya berdasarkan kenyataan
sebenarnya.
e.
Antisipatif, artinya mampu
menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.

f.
Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam
mengembangkan proses pembelajaran.
g.
Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan guru
dalam mengembangkan pembelajaran.
h.
Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam
mengembangkan pembelajaran.
i.
Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan
supervisi akademik.
j.
Aktif, artinya guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi.
k.
Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis,
terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor
l.
Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur dan
berkelanjutan oleh Kepala sekolah).
m. Terpadu, artinya
menyatu dengan dengan program pendidikan.
n.
Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik di atas
(Dodd, 1972)
4.
Dimensi-dimensi subtansi
supervisi akademik

a.
Kompetensi
kepribadian.
b.
Kompetensi
pedagogik.
c.
Kompotensi
profesional.
d.
Kompetensi
sosial.

No
|
Hari/Tgl
|
Nama Guru
|
Mata Pelajaran
|
Kelas/
Klp.
|
Jam ke
|
Pelaksana Supervisi
|
Keterangan
|
1.
|
Senin,
16-1-12
|
Ihat Muslihat,S.Pd.I.
|
Tematik
|
B
|
2-3
|
Kepala
SLB Ayahbunda
|
Terlaksana
|
2.
|
Senin,
30-1-12
|
Yulia Fitri
|
Tematik
|
A
|
2-3
|
Kepala
SLB Ayahbunda
|
Terlaksana
|
3.
|
Rabu,
8-2-12
|
Eva Sa’adah Noor
|
Tematik
|
I
|
1-2
|
Kepala
SLB Ayahbunda
|
Terlaksana
|
4.
|
Kamis,16-2-12
|
Tati Herawati
|
Tematik
|
III
|
1-2
|
Kepala
SLB Ayahbunda
|
Terlaksana
|
5.
|
Selasa,6-3-12
|
Titin Yuliati
|
Tematik
|
IV
|
1-2
|
Kepala
SLB Ayahbunda
|
Terlaksana
|
6.
|
Selasa,13-3-12
|
Ermiyati
|
Mulok
|
VI
|
3-4
|
Kepala
SLB Ayahbunda
|
Terlaksana
|
7.
|
Senin,19-3-12
|
Erminah
|
Tematik
|
II
|
2-3
|
Kepala
SLB Ayahbunda
|
Terlaksana
|
8.
|
Selasa,
20-3-12
|
Irma Indah Sari
|
Tematik
|
V
|
1-2
|
Kepala
SLB Ayahbunda
|
Terlaksana
|
Bogor, 9 Januari 2012
Kepala
SLBAyahbunda
Titin Sulistiawati, S.Pd.
BAB III
EVALUASI
A. Deskripsi Hasil
Dari pelaksanaan supervisi akademik
SLB Ayahbunda didapatkan hasil-hasil sebagai berikut :
Guru yang disupervisi 8 orang
Pelaksanaan antara Januari 2012
sampai dengan Maret 2012
Mata pelajaran yang disupervisi
adalah Tematik dan mulok
Kelas yang menjadi tempat supervisi
adalah TKLB Kel. A dan TKLB Kel. B juga kelas 1 sampai kelas 6 SDLB
No
|
Nama Guru
|
Nilai
|
Temuan
|
Tindak Lanjut
|
1
|
Ihat Muslihat,S.Pd.I.
|
A
|
Kesulitan dalam pemahaman ABK
|
Adanya pelatihan atau IHT tentang ABK
|
2
|
Yulia Fitri
|
A
|
Kesulitan dalam pemahaman ABK
|
Adanya pelatihan atau IHT tentang ABK
|
3
|
Eva Sa’adah Noor
|
B
|
Kesulitan dalam bahan ajar dan alat peraga
|
Adanya pelatihan atau IHT tentang bahan
ajar dan alat peraga untuk ABK
|
4
|
Tati Herawati
|
![]() |
Persiapan kurang memadai, kurang
penguasaan ABK
|
Adanya pelatihan atau IHT tentang ABK dan
pendalaman perangkat
![]() |
5
|
Titin Yuliati
|
C
|
Persiapan kurang memadai, kurang
penguasaan ABK
|
Adanya pelatihan atau IHT tentang ABK dan
pendalaman perangkat pembelajaran
|
6
|
Ermiyati
|
C
|
Persiapan kurang memadai, kurang
penguasaan ABK
|
Adanya pelatihan atau IHT tentang ABK dan
pendalaman perangkat pembelajaran
|
7
|
Erminah
|
C
|
Persiapan kurang memadai, kurang
penguasaan ABK
|
Adanya pelatihan atau IHT tentang ABK dan
pendalaman perangkat pembelajaran
|
8
|
Irma Indah Sari
|
C
|
Persiapan kurang memadai, kurang
penguasaan ABK
|
Adanya pelatihan atau IHT tentang ABK dan
pendalaman perangkat pembelajaran
|
B.
Pembahasan

Secara
keseluruhan semua guru telah mendapatkan hasil yang baik, dari hasil
wawancara pra observasi didapat bahwa 100% guru telah siap untuk melaksanakan
pembelajaran.
Untuk daftar
periksa observasi didapatkan hasil secara umum semua guru telah membuat
persiapan mengajar, dalam kegiatan pembelajaran belum seluruhnya dapat
memberikan motivasi dan apersepsi, namun untuk kesiapan alat bantu dan media
pembelajaran serta kesiapan bahan ajar 25% telah dapat dilaksanakan dengan
baik. Dalam kegiatan pokok 50% telah dapat melakukan sebagian besar aspek yang
diamati supervisor, 50% masih banyak kekurangan. Sedangkan dalam kegiatan
penutup seluruh guru telah melaksanakan dengan baik.
Sedangkan pada bagian
wawancara pasca observasi 75% guru dapat mengemukakan pendapatnya tentang
observasi yang telah dilaksanakan, 25% belum dapat menganalisa secara
baik dikarenakan pengalaman mengajarnya yang belum banyak.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Supervisi meningkatkan kesadaran dan pemahaman
pendidik dan tenaga kependidikan mengenai tugas dan fungsinya di sekolah,
sehingga mereka mempunyai dedikasi dan loyalitas tinggi.
Supervisi
merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah sebagai bagian
dari tugasnya sebagai supervisor, pelaksanaannya disesuaikan dengan waktu guru
yang telah disepakati dengan jadwal supervisi sehingga pelaksanaannya dapat
berjalan lancar dan mencerminkan pelaksanaan mengajar yang sesungguhnya tidak dibuat-buat.
Pogram dan pelaksanaan supervisi dipersiapkan dengan
rapi dan teratur dan diharapkan dari hasil supervisi dapat menjadi pegangan
dalam perbaikan pengajaran untuk guru yang bersangkutan.
Pelaksanaan
supervisi di SLB Ayahbunda dapat terlaksana dengan baik dengan persiapan dan
juga pelaksanaan yang didfukung oleh seluruh komponen sekolah.


1.
Pelaksanaan supervisi dijadwalkan dan dilaksanakan sesuai dengan
kondisi
sekolah.
2.
Guru harus mempersiapkan semua kelengkapan untuk pelaksanaan
supervisi.
3.
Kepala sekolah dapat menjadikan hasil supervisi sebagai pegangan
dalam
perbaikan kinerja guru dan sekolah.
4.
Pelaksanaan supervisi tidak mengganggu proses pembelajaran dan
program
pengajaran.
BAB
V
DAFTAR
PUSTAKA
APSI Pusat.2006, Instrumen Supervisi Akademis,
Jakarta
Direktorat Tenaga Kependidikan. 2010. Supervisi Akademik. Direktorat
Jenderal
Peningkatan Mutu
Pendidik
dan Tenaga
Kependidikan
Kementerian Pendidikan
Nasional
Dodd, W.A. 1972.
Primary School Inspection in New Countries. London:
Oxford University Press.
Glickman,
C.D., Gordon, S.P., and Ross-Gordon, J.M. 2007.Supervision and Instructional Leadership A Development
Approach. Seventh Edition. Boston: Perason.
Gwynn, J.M.
1961. Theory and Practice
of Supervision. New York: Dodd, Mead & Company.
Robbins,
S.P.2008. The Truth about
Managing People.Second Edition. Upper Sadle River, New Jersey:
Pearson Education, Inc.
Sergiovanni,
T.J. 1982. Supervision of
Teaching.Alexandria: Association for Supervision and Curriculum
Development.
Sullivan, S.
& Glanz, J. 2005.Supervision
that Improving Teaching Strategies and Techniques.Thousand Oaks,
California: Corwin Press.


Format-format
yang digunakan
A. Panduan Wawancara Pra Observasi
B. Daftar Periksa Observasi
C. Panduan Wawancara Pasca Observasi
[1]M. Ngalim
Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran cet ke X
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 8
[3]Hikmat, Manajemen
Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 298
[4]Harian Pikiran
Rakyat edisi 26 Juni 2006, hlm. 12
[6]Hikmat, Manajemen
Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 294
[8]Elliot W.
Eisner, The Education Imagination (New York: Cooler Mc Milan Publisher,
2009), hlm. 198.
[9]Suke Silverius,
Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik (Jakarta: Grasindo, 2005), hlm. 8
[10]Anas Sudiyono, Pengantar
Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 10
[17]Anas Sudiyono, Pengantar
Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 10
[18]M. Chabib
Thaha, Teknik Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Grafindo, 2008), hlm. 13
[20]Lantip Diat
Prasojo dan Sudiyono, Supervisi Pendidikan (Yogyakarta: Gava Media,
2011), hlm. 11
[21]Har. L.
Douglas, Democratic Supervision Secondary Schools (Cambridge: The
Riverside Press, 2007) hlm. 2-3
[22]Lantip Diat
Prasojo dan Sudiyono, Supervisi Pendidikan (Yogyakarta: Gava Media,
2007), hlm. 27
[25]Admadipura, MBS
Perbesar Potensi Ekonomi Sekolah? Kompas, 15 Desember 2003
[26]Depdiknas, Manajemen
Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Buku 1. 2006), hlm. 10
[27]Suparman, Manajemen
Pendidikan Masa Depan (Artikel, Jakarta; Dikti Depdiknas, 2005), hlm. 2
[28]http://www.smanichibangli.sch.id/visi-a-misi-sekolah.html
., diakses pada
hari Senin, 09 April 2012
[29]William Dersal,
Prinsip dan Teknik Supervisi Dalam Pemerintahan dan Perusahaan (Jakarta:
Bhatara Karya Akasara, 2008), hlm. 27
[30]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Petunjuk Pelaksanaan Supervisi
Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)
[31]James Marks,
Hand Book Educational Supervition (Boston: Alin and Bacon Inc, 2005), hlm.
76
[33] Ngalim
Purwanto, Muhammad, Administrasi Dan Supervisi Pendidikan (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 87
[35]Ibid.
[36]Djam’an. Analisis Kebijaksanaan Dalam Konteks Desentralisasi Dan Otonomi
Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 31
[37]Mukhtar dan
Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2009), hlm. 16
[38][38]Depdiknas, Panduan
Penyelenggaraan Program Rintisan SMA Bertaraf Internasional (Jakarta: tp.,
2009), hlm. 19
[39]Mukhtar dan
Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2009), hlm. 17
[40]Mukhtar dan
Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2009), hlm. 19
[42]Mukhtar dan
Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2009), hlm. 19
[43]Mukhtar dan
Widodosuparto, Manajemen Berbasis Sekolah (Jakarta: Misaka Galiza,
2003), hlm. 34
[44]Mukhtar dan
Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2009), hlm. 19
[46]Edward Salim, Total
Quality Management in Education (London: Kogan Page Limited, 1993), hlm.
110-111.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar